Paskibraka Kalteng 2026 Bagikan Kisah Perjuangan Selama Pelatihan

  • 31 Agt 2026 19:38 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya — Lima anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Kalimantan Tengah 2026 membagikan pengalaman mereka selama menjalani rangkaian seleksi, pendidikan dan pelatihan hingga melaksanakan tugas pengibaran dan penurunan bendera pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kisah tersebut disampaikan dalam program Obrolan Komunitas RRI Palangka Raya, Senin, 31 Agustus 2026.

Kelima anggota tersebut merupakan perwakilan dari sejumlah SMA di Kota Palangka Raya, yakni Kaisa Ramadan Yusuf dari SMA Negeri 5 Palangka Raya, Ideo Madeadi Biryasana, Davin Marilisa Putri, dan Genza Cherlia dari SMA Negeri 2 Palangka Raya, serta Lovely Desa Sapia Prastis dari SMA Negeri 3 Palangka Raya. Mereka memiliki alasan berbeda saat pertama kali bergabung dengan Paskibra, mulai dari terinspirasi teman, ingin mencoba pengalaman baru, hingga dorongan keluarga.

Proses menjadi Paskibraka tingkat provinsi berlangsung melalui beberapa tahapan, dimulai dari seleksi di sekolah, tingkat kota, hingga provinsi. Para peserta tidak hanya menjalani tes fisik dan Peraturan Baris-Berbaris (PBB), tetapi juga menghadapi tes akademik seperti Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU), serta penilaian kepribadian. Selama pelatihan, mereka juga dituntut mampu beradaptasi dengan kehidupan asrama dan menerapkan kedisiplinan.

Kaisa Ramadan Yusuf mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terberat yang dihadapinya selama proses seleksi adalah tes akademik, khususnya TIU. Ia mengaku pada saat itu lebih banyak mempersiapkan kemampuan fisik dan PBB sehingga persiapan akademiknya harus dilakukan secara mandiri.

“Yang paling berat pas TWK TIU sih, Kak. Soalnya untuk TIU nilai saya cukup rendah,” ujar Kaisa.

Selain membentuk kemampuan teknis, proses pendidikan dan pelatihan Paskibraka juga memberikan pengalaman dalam kepemimpinan, tanggung jawab, mental, dan kebersamaan. Ideo Madeadi Biryasana yang dipercaya menjadi ketua RT dalam sistem kehidupan asrama mengatakan, pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa menjadi pemimpin membutuhkan tanggung jawab besar karena harus ikut mengatur dan memastikan kedisiplinan anggota kelompok.

“Untuk teman-teman yang berbeda daerah, pesan saya untuk tetap rawat atau tidak melupakan tali persaudaraan kekeluargaan kita sebagai Paskibraka tahun 2026,” kata Made.

Setelah seluruh rangkaian pelatihan dan tugas pengibaran serta penurunan bendera selesai, para anggota Paskibraka harus kembali ke daerah dan rutinitas sekolah masing-masing. Perpisahan dengan teman-teman dari berbagai kabupaten menjadi salah satu momen paling emosional bagi mereka. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk terus menjaga disiplin, meningkatkan prestasi, serta memberikan kontribusi bagi Kalimantan Tengah dan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....