Waspada, Media Sosial Jadi Celah Penyebaran Paham Radikal Generasi Muda

  • 21 Agt 2026 20:31 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Intoleransi dan penyebaran paham radikal perlu diwaspadai masyarakat, terutama generasi muda. Terlebih melalui media sosial, intoleransi dan penyebaran paham radikal semakin mudah dilakukan dengan memanfaatkan berbagai konten yang menarik.

Personel Tim Pencegahan dari Satuan Tugas Wilayah Kalimantan Tengah Densus 88, Raka Sabda, mengatakan penyebaran intoleransi dan paham radikal dapat terselubung dalam berbagai konten media sosial. Bahkan, video dan gambar yang dikemas dengan gaya menarik perlu diwaspadai karena dapat terafiliasi dengan kelompok tertentu.

“Mereka bisa menyebarkan pemahaman mereka melalui konten-konten yang menarik. Dalam hal ini konten tersebut dikemas melalui video-video pendek, gambar-gambar menarik. Apalagi sekarang dengan adanya artificial intelligence, kita mudah sekali meminta AI itu untuk membuatkan kita poster-poster yang menarik,” katanya, saat mengisi program Zona Edukasi di Pro 1 RRI Palangka Raya, Kamis, 20 Agustus 2026.

Sementara itu, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kalimantan Tengah, Widiya Kumala, mengatakan penting bagi orang tua untuk mengawasi penggunaan media sosial pada anak. Jika tidak, anak-anak dapat terpengaruh pada sikap intoleransi hingga paham radikal yang dapat memecah persatuan.

“Tidak hanya game online sebenarnya ya, tapi dari komentar-komentar tadi nih. Ini versi baru lagi nih cara perekrutannya nih Bang Raka. Ini yang harus juga diwaspadai para orang tua dan para guru mungkin ya sekitarnya. Karena kan sekarang semuanya serba penggunaan media sosial ya kan kegiatan sekolah,” katanya.

Pengawasan perlu dilakukan dengan membangun komunikasi terbuka antara orang tua, guru, dan anak mengenai penggunaan media sosial. Selain membatasi akses terhadap konten berisiko, generasi muda juga perlu dibekali kemampuan untuk mengenali informasi yang mengandung intoleransi dan ajakan radikal.

Upaya pencegahan juga perlu dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, media, dan keluarga. Kehadiran konten kontra narasi yang positif dan edukatif di media sosial penting untuk mengimbangi penyebaran konten negatif serta menjaga generasi muda dari pengaruh paham yang dapat mengancam persatuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....