Cara Mengubah Gelisah Menjadi Tenang
- 08 Sep 2026 21:47 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Rasa gelisah kerap muncul ketika seseorang memikirkan satu persoalan secara berulang-ulang hingga membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang sebenarnya belum tentu terjadi. Kondisi tersebut justru dapat membuat satu masalah terasa semakin besar dan hati menjadi sempit. Hal itu disampaikan Ahmad Hanafi, S.E.I., M.E., dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Selasa, 8 September 2026.
Menurut Ahmad Hanafi, Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi kegelisahan dengan mendekatkan diri kepada Allah . Ketika hati terasa sempit, seseorang dapat berwudu, melaksanakan salat, membaca Al-Qur'an, memperbanyak istighfar, serta menyampaikan keluh kesah kepada Allah.
Doa pun tidak harus selalu panjang, karena Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Kisah Nabi Yunus AS juga menjadi pengingat bahwa dalam keadaan sesulit apa pun, manusia tetap memiliki jalan untuk kembali kepada Allah.
Ia menjelaskan, manusia memang dapat membuat perencanaan dan berusaha semaksimal mungkin, tetapi tidak memiliki kendali penuh terhadap hasil. Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Ahmad Hanafi mengingatkan, ketika menghadapi masalah, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang masih bisa saya lakukan?” Jika masih ada yang dapat dilakukan, maka lakukan dengan sungguh-sungguh. Namun, apabila segala upaya telah dilakukan, hasilnya perlu diserahkan kepada Allah.
“Kalau masalahnya ekonomi, perbaiki pengelolaan keuangan, susun pembayaran utang dan cari tambahan penghasilan. Kalau terjadi perselisihan, perbaiki komunikasi. Kalau melakukan kesalahan, bertaubat dan memperbaikinya. Kalau sakit, berdoa dan berobat,” ujarnya. Menurutnya, Islam tidak mengajarkan manusia hanya berdoa tanpa usaha, ataupun hanya berusaha tanpa doa, tetapi mengajarkan keduanya berjalan bersama.
Ahmad Hanafi juga mengingatkan agar seseorang tidak buru-buru menyimpulkan bahwa tidak ada jalan keluar hanya karena jalan tersebut belum terlihat. Kesulitan hari ini tidak boleh dijadikan ukuran untuk menilai seluruh masa depan. “Hari ini belum berhasil bukan berarti selamanya gagal. Hari ini doa belum terwujud bukan berarti Allah tidak mendengar,” katanya.
Karena itu, ketika diliputi kesedihan masa lalu, kekhawatiran terhadap masa depan, atau kesempitan akibat persoalan hidup, manusia dianjurkan untuk kembali kepada Allah, melakukan apa yang masih mampu dilakukan, kemudian bertawakal. Berdoa, bersabar, dan terus berikhtiar menjadi langkah penting untuk mengubah kegelisahan menjadi ketenangan dan menjaga harapan tetap hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....