Menyikapi Mitos di Bulan Safar dalam Islam

  • 28 Jul 2026 18:00 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Beragam mitos yang berkembang di masyarakat mengenai bulan Safar masih sering memengaruhi cara pandang sebagian umat Islam. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada dalil yang menyatakan bahwa bulan Safar merupakan bulan yang membawa kesialan. Hal tersebut disampaikan Ahmad Hanafi, S.E.I., M.E., dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Palangka Raya, Selasa, 28 Juli 2026.

Menurut Ahmad Hanafi, seorang muslim harus senantiasa berikhtiar dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah . Sikap berhati-hati dalam menjalani aktivitas sehari-hari merupakan hal yang dianjurkan, tetapi bukan karena meyakini adanya kesialan pada bulan tertentu. Ia menegaskan bahwa musibah seperti sakit, kecelakaan, kerugian, maupun berbagai ujian dapat terjadi kapan saja, tidak hanya pada bulan Safar.

Ia menjelaskan, ketika menghadapi musibah, seorang mukmin seharusnya tidak menyalahkan waktu, hari, maupun bulan. Sebaliknya, setiap ujian hendaknya dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi diri, mencari penyebab yang mungkin berasal dari kelalaian, kemudian berikhtiar mencari solusi, serta bersabar dan bertawakal kepada Allah setelah usaha dilakukan.

Ahmad Hanafi juga meluruskan anggapan bahwa bulan Safar tidak baik untuk menikah, memulai usaha, atau pindah rumah. Menurutnya, tidak ada larangan dalam Islam mengenai aktivitas tersebut. Bahkan, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah menikahi Sayyidah Khadijah RA pada bulan Safar.

Karena itu, masyarakat tidak perlu menunda berbagai kegiatan yang halal hanya karena terpengaruh mitos. Terkait tradisi yang berkembang, seperti keyakinan tentang Rabu terakhir di bulan Safar sebagai waktu turunnya bala, Ahmad Hanafi mengingatkan agar masyarakat dapat membedakan antara budaya dan ajaran agama.

Berdoa, berzikir, membaca Al-Qur'an, atau mengikuti pengajian merupakan amalan yang baik, namun tidak boleh disertai keyakinan bahwa hari tertentu memiliki kekuatan khusus tanpa dasar dari Al-Qur'an maupun hadis.

Ia menegaskan bahwa mempercayai mitos dapat merusak kemurnian tauhid karena hanya Allah yang memiliki kuasa atas manfaat dan mudarat. "Jika seseorang meyakini bahwa bulan tertentu pasti membawa kesialan, maka secara tidak langsung ia telah memberikan kekuatan kepada sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas ketentuan Allah, sehingga keimanan harus dibangun di atas ilmu, bukan mitos," ujar Ahmad Hanafi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....