Memaknai Dibalik Pelaksanaan Ibadah Qurban

  • 19 Mei 2026 07:45 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya- Ibadah qurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan semata, namun juga mengandung nilai ketakwaan, kepedulian sosial, hingga tanggung jawab terhadap lingkungan. Hal tersebut disampaikan dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Selasa, 19 Mei 2026, bersama Ahmad Hanafi, S.E.I., M.E dan Mukarramah.

Ahmad Hanafi menjelaskan bahwa ibadah qurban memiliki keterkaitan erat antara manusia dengan Allah sebagaimana tercermin dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail . Selain itu, qurban juga menjadi sarana membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Alhamdulillah, ibadah qurban mengajarkan kepedulian manusia terhadap sesama. Ada orang kaya berbagi kepada yang kurang mampu, masyarakat bisa makan bersama, dan di sana ada kebahagiaan yang tercipta,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu hikmah terbesar dari qurban adalah menghadirkan perhatian, kasih sayang, dan penghormatan kepada sesama manusia, khususnya bagi masyarakat yang jarang menikmati daging. “Pembagian daging qurban bukan hanya soal makanan, tetapi ada makna perhatian dan kasih sayang kepada sesama manusia,” ucapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pelaksanaan qurban yang ramah lingkungan. Menurutnya, masih ditemukan limbah qurban yang dibuang sembarangan sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan.

“Sisa hewan qurban sebaiknya tidak dibuang sembarangan. Jika memungkinkan dapat dikubur atau diolah menjadi kompos. Penggunaan plastik juga perlu dikurangi, misalnya diganti dengan besek bambu atau daun pisang yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Selain itu, Ahmad Hanafi mengingatkan pentingnya memperlakukan hewan qurban dengan baik sebelum dan saat penyembelihan.“Hewan qurban tidak boleh disiksa. Penyembelihan harus dilakukan dengan tata cara yang baik dan benar,” katanya.

Sementara itu, Mukarramah menyampaikan bahwa inti dari ibadah qurban adalah ketakwaan dan keikhlasan hati dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Allah tidak membutuhkan daging maupun darah hewan qurban kita, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati kita dalam berkorban,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kata qurban berasal dari kata qaruba yang berarti mendekat, yakni upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui pengorbanan. Mukarramah juga mengingatkan kembali kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail sebagai bentuk ketaatan dan cinta kepada Allah yang melebihi kepentingan pribadi.

“Hari ini mungkin bukan anak yang kita korbankan, tetapi ego, keserakahan, dan sifat kikir dalam diri kita yang harus dikorbankan agar kita mampu berbagi kepada sesama,” ucapnya. Melalui ibadah qurban, umat Islam diajak untuk memperkuat nilai keikhlasan, kepedulian sosial, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....