Menimbang Haji dan Umrah dari Perspektif Kesehatan dan Ekonomi
- 12 Mei 2026 06:35 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Ibadah haji dan umrah tidak hanya dipandang sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga perlu dipersiapkan dari sisi kesehatan dan ekonomi. Hal tersebut disampaikan Ahmad Hanafi, S.E.I., M.E dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurut Ahmad Hanafi, banyak masyarakat yang menunda pendaftaran haji, padahal usia dan kondisi kesehatan seseorang tidak dapat dipastikan di masa mendatang. “Di luar sana banyak orang berlomba-lomba dalam kebaikan," katanya.
"Umur tidak ada yang tahu, kesehatan juga terus berubah. Kekuatan fisik semakin menurun seiring bertambahnya usia,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi jamaah lanjut usia yang kerap membutuhkan bantuan saat menjalankan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Bahkan ada jamaah yang sudah harus mendapatkan perawatan kesehatan sejak perjalanan menggunakan pesawat.
“Kita sering melihat jamaah haji lansia berjalan harus dibantu, ada yang memakai kursi roda, mudah kelelahan bahkan sakit berat. Pengalaman saya, ada yang di pesawat sudah diinfus karena memiliki penyakit bawaan,” katanya.
Karena itu, Ahmad Hanafi mengingatkan masyarakat yang telah memiliki kemampuan ekonomi dan kesehatan agar tidak menunda mendaftar haji. Menurutnya, antrean keberangkatan yang semakin panjang menjadi pengingat agar umat Islam segera mempersiapkan diri.
Belakangan ini, lanjutnya, masyarakat ramai membicarakan istilah “haji furoda” dan sistem kuota haji yang semakin kompetitif. Kondisi tersebut muncul karena tingginya minat masyarakat untuk berhaji sementara kuota keberangkatan terbatas.
“Istilah itu menunjukkan satu hal penting, yaitu kerinduan umat Islam untuk berhaji. Kalau sudah mampu jangan terus menunda daftar haji, karena waktu terus berjalan dan usia terus bertambah,” ucapnya.
Ahmad Hanafi menekankan bahwa ibadah haji merupakan ibadah fisik yang memerlukan kesiapan jasmani dan rohani. Aktivitas ibadah yang padat, cuaca berbeda dengan Indonesia, hingga perjalanan jauh dengan berjalan kaki menjadi tantangan tersendiri bagi jamaah.
“Haji bukan ibadah ringan. karena jutaan umat Islam berkumpul dengan cuaca yang berbeda dan aktivitas yang sangat padat. Karena itu kesehatan menjadi sangat penting,” ucapnya.
“Banyak orang fokus mengumpulkan biaya, tetapi lupa menyiapkan kesehatan jasmaninya. Padahal ibadah yang baik membutuhkan tubuh yang siap,” ujarnya.
Ahmad Hanafi menyarankan persiapan kesehatan dilakukan jauh hari sebelum keberangkatan, termasuk menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sejak usia muda. Selain kesehatan, ia juga menyoroti pentingnya memahami skala prioritas dalam ibadah.
Menurutnya, ada masyarakat yang berkali-kali menjalankan umrah, namun belum memiliki porsi haji. “Kalau dihitung, biaya beberapa kali umrah mungkin sudah cukup untuk setoran haji, karena itu jangan sampai ibadah sunah terus dilakukan sementara ibadah wajib justru ditunda,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Hanafi juga menjelaskan bahwa ibadah haji dan umrah memiliki perbedaan mendasar. Haji memiliki waktu pelaksanaan tertentu dan hukumnya wajib bagi yang mampu, sedangkan umrah dapat dilaksanakan hampir sepanjang tahun dan hukumnya sunah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....