Makna Mimbul Sawang dalam Ritual Pernikahan Suku Dayak Kalteng
- 04 Apr 2026 11:51 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Dalam setiap prosesi pernikahan ritual Hindu Kaharingan Dayak Kalimantan Tengah, terdapat sejumlah tahapan sakral yang sarat makna. Salah satunya adalah tradisi mimbul sawang, sebuah simbol penting yang mencerminkan harapan, perlindungan, serta keseimbangan hidup bagi pasangan yang akan memulai rumah tangga.
Mimbul sawang secara harfiah dapat dimaknai sebagai “munculnya peneduh” atau “hadirnya pelindung”. Dalam praktiknya, ritual ini biasanya ditandai dengan penggunaan daun sawang atau elemen alam lain yang diyakini memiliki kekuatan simbolis untuk menolak hal-hal buruk. Prosesi ini dilakukan oleh Basir atau rohaniawan Hindu Kaharingan yang memimpin jalannya upacara.
Menurut Basir Tambang, mimbul sawang bukan sekadar bagian dari rangkaian adat, melainkan bentuk doa dan harapan agar pasangan pengantin senantiasa berada dalam lindungan leluhur serta dijauhkan dari mara bahaya. "Selain itu, ritual ini juga menjadi pengingat akan pentingnya hidup selaras dengan alam dan menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan sekitar," katanya, Sabtu, 4 April 2026.
Lebih lanjut dikatakan dalam konteks sosial, mimbul sawang memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat Dayak. Prosesi ini tidak hanya melibatkan keluarga kedua mempelai, tetapi juga masyarakat luas sebagai bentuk dukungan terhadap kehidupan baru yang akan dijalani pasangan tersebut.
| Baca juga: Memaknai Dibalik Pelaksanaan Ibadah Qurban |
Di tengah arus modernisasi, keberadaan ritual seperti mimbul sawang menghadapi tantangan tersendiri. Generasi muda cenderung mulai meninggalkan tradisi ini karena dianggap rumit atau kurang relevan. Namun, berbagai pihak, termasuk lembaga adat dan pemerintah daerah, terus berupaya melestarikannya melalui edukasi budaya dan penguatan identitas lokal.
Pelestarian mimbul sawang dinilai penting, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber nilai kehidupan yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. "Dengan menjaga tradisi ini tetap hidup, masyarakat Dayak Kalimantan Tengah turut mempertahankan jati diri budaya di tengah perubahan zaman," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....