Cara Mengurangi Rasa Kecintaan pada Dunia

  • 02 Jun 2026 06:18 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya- Kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dapat membuat seseorang lalai terhadap tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah . Islam mengajarkan umatnya untuk menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan utama kehidupan.

Hal tersebut disampaikan oleh Heldayani, S.H.I dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palangka Raya, Minggu, 31 Mei 2026. Menurutnya, salah satu pelajaran penting tentang mengurangi kecintaan terhadap dunia dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail .

Heldayani menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim pernah mendapatkan ujian besar dari Allah melalui mimpi yang memerintahkannya untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail .

"Sebagai seorang ayah tentu itu merupakan ujian yang sangat berat. Namun karena Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah orang-orang yang saleh dan memiliki keimanan yang kuat, Nabi Ibrahim lebih memilih melaksanakan perintah Allah daripada mempertahankan rasa cintanya kepada anak yang sangat dicintainya," ujarnya.

Ketika Nabi Ibrahim menunjukkan ketaatan yang sempurna kepada Allah , lanjut Heldayani, Allah kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan kurban. Peristiwa tersebut menjadi asal mula syariat kurban yang hingga kini dilaksanakan umat Islam setiap Hari Raya Iduladha dan hari-hari tasyrik.

"Dari kisah Nabi Ibrahim itu kita belajar bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Beliau rela mengorbankan sesuatu yang sangat dicintainya demi menjalankan perintah Allah," katanya.

Menurut Heldayani, ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan mengandung makna spiritual yang mendalam sebagai bentuk ketaatan, keikhlasan, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah ."Inti dari ibadah kurban adalah keikhlasan dan ketaatan sebagai bagian dari ketakwaan.

Jadi bukan sekadar ritual lahiriah memotong hewan kurban. Yang sampai kepada Allah bukan darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban," katanya.

Ia menambahkan, salah satu hikmah kurban adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah . Kisah Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah harus mengalahkan kecintaan terhadap harta, keluarga, maupun kepentingan duniawi lainnya.

Selain itu, ibadah kurban juga mengajarkan umat Islam untuk tidak terlalu mencintai harta benda. Dengan berkurban, seseorang dilatih untuk mengikhlaskan sebagian harta terbaiknya demi meraih ridha Allah .

"Manusia pada dasarnya mencintai harta. Namun melalui ibadah kurban, kita diajarkan untuk rela berbagi dan mengeluarkan sebagian rezeki yang dimiliki demi kepentingan yang lebih besar, yaitu mengharap ridha Allah," katanya.

Heldayani juga menyoroti pentingnya menumbuhkan rasa syukur melalui ibadah kurban. Menurutnya, ketika seseorang mampu berbagi dengan orang lain, maka rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah akan semakin meningkat.

"Melalui penyembelihan hewan kurban dan membagikannya kepada sesama, kita diingatkan bahwa seluruh rezeki yang kita miliki berasal dari Allah. Karena itu, rezeki tersebut harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk membantu orang lain," ucapnya.

Tidak hanya berdampak pada diri sendiri, ibadah kurban juga memiliki manfaat sosial yang besar. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat, terutama fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan, menjadi sarana mempererat persaudaraan dan kepedulian sosial.

"Kurban menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh orang yang berkurban, tetapi juga memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat," ucap Heldayani.

Melalui keteladanan Nabi Ibrahim dan ibadah kurban, umat Islam diajak untuk mengurangi kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Tujuannya untuk memperkuat ketakwaan, serta meningkatkan kepedulian sosial sebagai wujud penghambaan kepada Allah .

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....