Menaker: Perguruan Tinggi Harus Lahirkan Lulusan Terampil TI
- 10 Jan 2025 17:10 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Republik Indonesia, Yassierli mengkritik perguruan tinggi yang belum optimal menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan di bidang teknologi informatika (TI). Padahal tenaga terampil di bidang TI sangat dibutuhkan dalam dunia kerja.
"Kebutuhan dunia kerja telah bergeser. Banyak hal yang bisa dikerjakan dengan pemanfaatan kecerdasan buatan. Tapi manusia masih dibutuhkan dalam pemanfaatan dan pengelolaan TI. Ini yang perlu disiapkan," ujar Yassierli pada ribuan mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) saat kuliah umum tentang Peningkatan Kompetensi SDM dalam Menghadapi Era Digital, Jumat (10/1/2025).
Menurut Yassierli, tantangan di era teknologi informasi sudah diketahui bersama. Tapi sayangnya pergerakan untuk menyiapkan tenaga kerja terampil sejak bangku pendidikan belum optimal. Padahal jumlah angkatan kerja mengalami kenaikan. Pada 2024 mencapai 4,4 juta jiwa, sedangkan rata-rata pada 8 tahun sebelumnya 3,3 juta jiwa. "Ini yang menjadi pekerjaan rumah dosen dan manajemen perguruan tinggi," ucapnya.
Kendati demikian, Yassierli juga mendorong mahasiswa untuk belajar secara mandiri terkait TI. Apalagi teknologi sudah menjadi keseharian generasi saat ini.
"Tidak harus masuk dan lulus dari jurusan TI. Semua bisa dikuasai dengan belajar," ucapnya.
Yasierli mengingatkan, pekerjaan yang mengandalkan teknologi digital akan tumbuh cepat. Lulusan perguruan tinggi harus sadar dan menyesuaikan. Pekerjaan yang akan dibutuhkan misalnya analisis big data, fintech engineers, artificial intelegenci and machine learning specialist, software and aplication developer, hingga security management specialist.
Sementara itu Rektor UNP, Krismadinata mengatakan, telah menerapkan penggunaan artificial intelegence pada kegiatan perkuliahan di UNP. Seluruh dosen telah mendapat bimbingan penggunaan kecerdasan buatan. Kemudian dosen menularkan pengetahuan dimaksud pada mahasiswa.
"Tidak hanya menggunakan kecerdasan buatan untuk perkuliahan. Namun mahasiswa dan dosen juga ditantang untuk membangun sistem baru berbasis kecerdasan buatan," ucapnya.