NTP Sumbar Turun Februari 2026, Daya Beli Petani Melemah
- 03 Mar 2026 09:07 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) di daerah ini pada Februari 2026 mencapai 124,77. NTP ini mengalami penurunan sebesar 1,60 persen dibandingkan Januari 2026 sebesar 126.80.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin mengungkapkan, penurunan NTP ini disebabkan menurunnya harga hasil produksi petani (It) sebesar 1,28 persen. “Sementara harga untuk kebutuhan konsumsi maupun biaya produksi dan penambahan barang modal (Ib) mengalami peningkatan sebesar 0,33 persen,” katanya, Senin, 2 Februari 2026.
Nurul menjelaskan, penurunan NTP secara umum pada Februari 2026 disebabkan NTP pada subsektor tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat kompak mengalami penurunan. “Sementara itu, subsektor peternakan dan subsektor perikanan justru mengalami peningkatan sebesar 0,66 persen dan 0,93 persen.
Penurunan NTP pada subsektor tanaman pangan terjadi pada dua kelompok, yakni kelompok padi sebesar 1,21 persen dan kelompok palawija 2,77 persen. Sementara penurunan pada subsektor hortikultura akibat penurunan pada komoditas kelompok sayuran sebesar 0,40 persen dan tanaman obat-obatan 1,63 persen.
Sementara NTP pada subsektor peternakan yang meningkat sebesar 0,66 persen didorong meningkatnya harga hasil produksi petani pada kelompok ternak besar mencapai 0,98 persen dan kelompok unggas mencapai 3,77 persen. “Sementara kenaikan NTP perikanan didorong meningkatnya harga hasil produksi kelompok perikanan tangkap dan kelompok perikanan budidaya masing-masing sebesar 0,66 persen dan 1,39 persen,” kata Nurul.
Jika dirinci, berdasarkan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Sumbar pada Februari 2026 sebesar 131,11 yang mengalami penurunan sebesar 1,13 persen dibandingkan Januari 2026. “Hal ini disebabkan penurunan harga pada hasil produksi petani sebesar 1,28 persen lebih tinggi dibandingkan penurunan harga pada penambahan barang modal yang mengalami penurunan sebesar 0,15 persen,” ujarnya.
Nurul menjelaskan, sebagian subsektor mengalami penurunan, kecuali peternakan dan perikanan. “Penurunan NTUP terutama dipengaruhi turunnya kinerja subsektor tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat,” kata Nurul.
Sedangkan Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani pedesaan pada Februari 2026 meningkat sebesar 0,50 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara secara tahunan (year on year), IKRT Februari 2026 terhadap Februari 2025 tercatat meningkat sebesar 0,39 persen.
“Komoditas yang memberi andil signifikan terhadap kenaikan IKRT yakni, cabai merah, jengkol, tomat sayur dan emas perhiasan,” ujarnya.