Banyumas Raya Miliki Dua Pelatih Karateka dan Penguji Berlisnsi Dari Jepang

  • 29 Jan 2025 20:06 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Senior karateka di Banyumas Raya yang mengikuti ujian DAN Japan Karate Association (JKA) berhasil lulus setelah mengikuti beberapa rangkaian uji yang digelar sejak Jumat-Minggu (24-26/1/2025) di gedung Kalimantan Bea Cukai Jakarta. Tim penguji berasal dari dewan guru dari Indonesia dan pengawasan langsung Managing Director asal Jepang Shihan Seizo Izumia .

Mereka yang lulus adalah Zakaria Wawan naik ke DAN 3 JKA, sementara dua lainnya yakni Ishadi dan Sutrisno mengikuti sertikasi pelatih dan penguji juga dinyatakan lulus.

Ketiganya adalah para Karateka yang tergabung dalam Akademi Seni-beladiri Karate Indonesia (ASKI). Dengan adanya gelar DAN dari JKA, kini di Banyumas Raya, ASKI telah memiliki dua karateka lisensi dari negara asal karate setelah sebelumnya disandang oleh Agyl Lastono.

Wawan Zakaria mengaku memiliki tekad untuk ujian JKA tidak lepas support dari pengrov ASKI Jateng terutama dari Wakil ketua umum Agyl Lastono.

"Saat kejurprov 2025 lalu di Salatiga saya didorong untuk ikut dengan diberikan rekomendasi, sehingga saya berupaya untuk mencapai hasil sesuai harapan, dan ternyata saya lulus,"jelasnya.

Sutrisno salah satu karateka asal kabupaten Banyumas ke[ada RRI Mengatakan, sebelum digelar ujian JKA dan sertifikasi pelatih serta penguji nasional, pengurus pusat ASKI menggelar latihan teknik karate untuk 45 karateka senior dari 33 provinsi mulai dari DAN 2 hingga 7,

Bahkan beberapa mantan atlet andalan timnas karate Indonesia seperti Jenny Zeannet, Jhony Sihotang, Maya Firman, Agus Suwardi dan para dewan guru ikut meramaikan latihan yang diadakan di Dojo PP ASKI dan di Gedung Kalimantan Bea Cukai Jakarta.. Managemen waktu dalam karate merupakan hal yang sangat berharga dan tanda bagi karateka dalam penerapan disiplin.

"Waktu bagi saya sangat berharga dan hal itu harus diterapkan dalam setiap latihan, bahkan saya ingin lebih lama melatih di Indonesia karena banyak yang terbuang,"katanya seperti yang diterjemahkan oleh Sensei Rai Wibawa" ungkapanya.

Para karateka di Indonesia diingaatkan untuk kembali tentang asal usul dan filosofi karate dari negara asal, karena memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai, filosofi, dan tujuan asli dari seni-beladir karatedo.

"Karate bukan hanya sekadar olahraga atau teknik bertarung, tetapi juga memiliki aspek spiritual dan moral, seperti disiplin, penghormatan, dan pengendalian diri, selain itu membantu menghargai warisan budaya, serta menjaga kesetiaan pada prinsip-prinsip yang mendasari karate."Kita bisa lebih menghormati tradisi dan guru-guru yang telah mengembangkan karate hingga menjadi seperti sekarang ini," terangnya.

Sejumlah karateka senior usai latihan mengakui kegiatan menghadirkan pelatih langsung dari sumbernya merupakan hal positif bagi perkembangan beladiri karate di Indonesia. Belajar karate langsung dari sumbernya akan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki teknik lebih cepat sehingga meningkatkan kemampuan lebih efisien.

Sekelas mantan atlet nasional seperti Jenny Zeannet Sondakh yang pernah memperkuat tim Asian Games 2006 di Doha Qatar pun tak ketinggalan terus memperdalam latihan, bahkan dirinya juga mengikuti sertifikasi pelatih dan penguji. Menurutnya Jepang adalah tempat lahirnya karate, sehingga belajar langsung dari para instruktur JKA yanng berpengalaman dan terlatih bisa mendapatkan pengajaran dengan kualitas yang sangat tinggi dan detail.

"Jepang sangat menghargai tradisi dan etika dalam berlatih karate, belajar langsung dengan Shihan Seizo Izumiya untuk merasakan dan mengapresiasi keaslian, keseriusan, serta rasa hormat yang tinggi terhadap seni beladiri ini, karena kita perlu setiap saat merefresh kembali agar filosofi hingga sekecil mungkin bisa diingat kembali,"terangnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....