Ketika Syariat Islam Dianggap Asing, Jangan Berkecil Hati

  • 09 Jul 2026 10:18 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Pernahkah kita merasa jauh dari Allah SWT, terutama ketika sedang disibukkan dengan urusan duniawi? Jika kondisi ini terus berlarut, suatu hari kita akan dihadapkan pada situasi di mana syariat Islam dianggap asing.

Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nunukan, Ustaz Anam Azhari, menyoroti bahwa saat ini tak sedikit orang yang berusaha menegakkan syariat Islam—atau sekadar menjalankan salat lima waktu—justru dianggap asing dan aneh oleh lingkungan sekitarnya. Menurutnya, perlahan Islam kembali menjadi asing sebagaimana kondisi pada awal perkembangannya.

Contoh lainnya adalah orang-orang yang berusaha menjauhi riba, yang kerap dianggap tidak lumrah bahkan oleh sesama muslim. Tak hanya itu, maraknya kasus korupsi di tanah air yang seolah dimaklumi juga turut memperparah kondisi tersebut.

"Inilah zaman di mana kita—orang yang berusaha menegakkan syariat Islam, menjalankan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya—dianggap sebagai orang yang aneh dan asing," kata Ustaz Anam dalam Tausiyah Mutiara Pagi edisi Rabu (1/7/2026) di Studio Pro 1 RRI Nunukan.

Meski demikian, Ustaz Anam mengimbau umat Islam agar tidak berkecil hati. Rasulullah SAW telah memberi petunjuk bahwa orang-orang yang dianggap asing (al-ghuraba') justru merupakan kelompok yang beruntung di tengah gempuran kemaksiatan dan fitnah akhir zaman.

"Sahabat bertanya, 'Siapa orang-orang yang beruntung dan dianggap asing itu, wahai Nabi?' Nabi menjawab, 'Orang-orang yang berusaha untuk tetap berbuat baik dan memperbaiki ibadah mereka ketika manusia banyak yang rusak, serta orang-orang yang selalu berpegang teguh pada sunnahku ketika manusia banyak yang berselisih,'" jelasnya.

Ia menambahkan, menghadapi situasi ketika syariat dianggap asing membutuhkan keberanian, kesabaran, dan keteguhan hati (istiqamah). Umat diminta tidak goyah hanya karena pandangan atau cemoohan manusia.

"Rasulullah SAW menggambarkan betapa beratnya memegang teguh ajaran Islam di akhir zaman seperti orang yang menggenggam bara api. Jika bara api itu kita lepas, agama kita hilang. Namun jika kita genggam, terasa panas dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa," terangnya.

Sebagai penutup, Ustaz Anam mengajak umat untuk terus memperkaya ilmu syar'i agar dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, memelihara lingkungan pertemanan yang saleh, serta senantiasa berdoa memohon keteguhan hati kepada Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....