Memaknai Hijrah Secara Kontekstual
- 28 Jun 2026 12:17 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan – Memaknai hijrah secara kontekstual berarti memahami esensinya secara menyeluruh. Dalam perspektif Islam, hijrah mengandung makna upaya tiada henti untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dengan cara menundukkan hati dan kembali kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Umum MUI Kabupaten Nunukan, Ustaz H. Darsan A. Were, dalam tausiyah Mutiara Pagi pada Selasa (23/6/2026). Ia menjelaskan bahwa dalam konteks sejarah, hijrah memang merujuk pada peristiwa perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama para pengikutnya dari Mekah ke Madinah demi menyelamatkan diri dan dakwah dari tekanan kaum kafir Quraisy.
"Berhijrah itu bukan hanya sekadar berpindah secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain. Akan tetapi, kita harus memaknai hijrah ini secara kontekstual, artinya menyeluruh. Menghijrahkan hati kita dari hal yang tidak baik menjadi hal yang lebih baik," ujarnya.
Di sisi lain, momentum bulan Muharam dinilai sebagai waktu yang sangat tepat untuk melakukan muhasabah (evaluasi) diri dan bertransformasi menuju kondisi yang lebih positif. Secara historis, penetapan Muharam sebagai bulan pertama dalam kalender Islam pun tidak terlepas dari peristiwa besar tersebut.
Perjalanan dakwah Rasulullah SAW sendiri tidak selalu berjalan mulus. Beliau kerap menerima cemoohan hingga penolakan keras, bahkan dari kalangan keluarganya sendiri, hingga akhirnya perintah untuk berhijrah itu turun.
"Pada titik nadir dakwah tersebut, Rasulullah disakiti, kemudian diuji lagi dengan wafatnya istri beliau (Siti Khadijah) serta sang paman, Abu Thalib, yang selama ini menjadi pelindung utama perjuangan beliau. Di tengah ujian yang begitu besar itulah, perintah untuk berhijrah diturunkan," jelasnya.
Melalui momentum ini, Ustaz Darsan mengajak umat Islam untuk mempelajari agama secara menyeluruh (kaffah) dan senantiasa berkomitmen menjadi pribadi yang lebih baik. Menurutnya, berhijrah juga mencakup upaya memperbaiki hubungan sesama manusia (hablum minannas) serta terus memperkaya kapasitas intelektual.
"Kita masih berada di bulan yang mulia ini, bulan Muharam. Maka pergunakanlah waktu dan umur ini dengan sebaik-baiknya. Mari hijrahkan diri kita secara menyeluruh—baik hati, fisik, maupun seluruh aspek kehidupan—agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin," ucapnya.
"Mulailah dari sekarang untuk konsisten memperbaiki diri dan menjaga sikap agar tidak menyakiti hati sesama," tambahnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....