Sebaik Apa Pun Kita, Tetap Ada yang Tidak Suka

  • 02 Apr 2026 06:00 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Program siaran Mutiara Pagi kembali menghadirkan tausiyah inspiratif bersama narasumber Ustaz Anam Azhari. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Nunukan ini mengangkat topik “Sebaik Apa Pun Kita, Tetap Ada yang Tidak Suka”, sebagai pengingat bagi umat Islam agar tetap fokus mencari ridha Allah SWT di tengah dinamika kehidupan sosial.

Ustaz Anam Azhari menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita memiliki dua kewajiban utama, yakni menyempurnakan hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah) dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas). Keduanya harus berjalan seimbang sebagai bentuk ketaatan seorang hamba.

Menurutnya, tidak perlu heran jika dalam kehidupan selalu ada orang yang tidak menyukai kita. Bahkan, Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik dengan akhlak yang mulia pun tidak luput dari kebencian sebagian orang.

“Jangankan kita, Rasulullah saja yang sudah menjadi uswatun hasanah masih ada yang tidak menyukai beliau. Apalagi kita sebagai manusia biasa,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan fenomena yang kerap terjadi di masyarakat, yakni sikap iri dan dengki. Dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 120 dijelaskan bahwa ada orang yang tampak baik di sekitar kita, namun merasa senang ketika kita mendapat musibah dan merasa sedih saat kita bahagia. Kondisi ini bahkan dikenal dengan istilah “penyakit SMS” atau “Susah Melihat Senangnya orang”.

Lantas, bagaimana menyikapi hal tersebut? Ustaz Anam menegaskan bahwa Islam telah memberikan panduan yang jelas. Umat Islam diminta untuk tetap menjaga hubungan baik, meskipun menghadapi fitnah, ghibah, atau sikap tidak menyenangkan dari orang lain.

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka tugas kita adalah mendamaikan, merukunkan, dan menjaga hubungan baik, bukan memperpanjang permusuhan,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan dan konflik adalah hal yang tidak bisa dihindari, bahkan dengan saudara kandung sekalipun. Namun, Islam membatasi agar permusuhan tidak berlangsung lebih dari tiga hari. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Abu Daud yang melarang seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.

“Kita boleh marah, tapi tidak boleh berlarut-larut. Kita harus mampu mengelola hati agar tidak menyimpan kebencian,” katanya.

Lebih lanjut, Ustaz Anam mengutip hadis riwayat Bukhari yang mengingatkan agar umat Islam tidak saling hasad, membenci, menipu, atau saling membelakangi. Sebaliknya, umat diminta untuk menjadi hamba Allah yang saling bersaudara dan menguatkan satu sama lain, layaknya sebuah bangunan yang kokoh.

Ia juga mengajak umat untuk meneladani ajaran Al-Qur’an, di antaranya Surah Ali Imran ayat 134 yang menganjurkan untuk menahan amarah dan memaafkan, serta Surah Al-A’raf ayat 199 yang memerintahkan untuk menjadi pemaaf, mengajak kepada kebaikan, dan menjauhi orang-orang yang berbuat zalim.

Di akhir tausiyahnya, Ustaz Anam mengingatkan bahwa hidup dengan tujuan mencari penilaian manusia hanya akan melelahkan. Sebaliknya, fokuslah pada penilaian Allah SWT sebagai tujuan utama kehidupan. Ustaz Anam berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi perbedaan, menjaga hati dari iri dan dengki, serta terus memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia demi meraih ketenangan hidup di dunia dan akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....