DKUKMPP Nilai Pasar Tani Melenceng, Pengelola Sebut Omzet Rp300 Juta

  • 08 Mar 2026 10:35 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Wacana penataan Pasar Tani Alun-Alun Nunukan memunculkan perbedaan pandangan antara pemerintah daerah dan pengelola. Perbedaan pandangan muncul terkait fungsi pasar serta rencana pemindahan lokasi setelah Lebaran.

Pemerintah daerah menilai jumlah pedagang Pasar Tani kini jauh melampaui konsep awal. Awalnya pasar hanya diisi puluhan pedagang hasil pertanian lokal. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Nunukan, Muhtar.

“Perencanaan awal itu kan di awal puasa itu kan segitu cuma 40 an pedagang, kalau yang sekarang itu kan tidak karuan sampai penjual ikan pun ada. Nanti kita kembalikan ke fungsinya penjual ikan ya masuk ke pasar,” ucap Muhtar.

Pemerintah daerah berencana menata ulang pedagang sesuai jenis dagangan. Pedagang sayur, UMKM kecil, dan komoditas lain akan ditempatkan pada blok terpisah. Penataan tersebut rencananya akan diatur melalui kebijakan resmi pemerintah daerah. Regulasi itu disebut akan memperjelas aturan bagi pedagang Pasar Tani.

“yang bisa itu UMKM yang kecil itu bisa nanti tinggal kita tata kembali jangan campur adukkan penjual sayur lain bloknya juga, bagi blok aja nanti, nanti kita rapatkan nanti ada surat bupati untuk mengatur itu supaya lebih jelas lagi kan.” ucap Muhtar.

Namun, pengelola Pasar Tani menilai keberadaan pasar justru mendorong pergerakan ekonomi masyarakat kecil. Aktivitas perdagangan disebut memberi dampak langsung bagi pedagang dan petani.

“Bagaimana Bupati yang lalu itu ada pergerakan ekonomi di tingkat petani. Kalaupun ada di luar daripada penjual-penjual sayur itu hanya penjual penambahan saja. Untuk menyempurnakan daripada Pasar Tani. Jadi Pasar Tani Alun-Alun ini adalah pergerakan ekonomi bawah menengah ke bawah.” ucap Abdul Kadir. Minggu (08/03/2026).

Ia juga menyebut jumlah pedagang di Pasar Tani terus meningkat setiap pekan. Aktivitas jual beli disebut mampu menggerakkan perputaran uang yang cukup besar.

“Coba bayangkan Pak sekarang, itu sudah 200 lebih penjualnya. Putaran satu kali satu minggu itu kurang lebih Rp300 juta. Setiap satu minggu. Itu uang berputar di sini. Omzet itu dihasilkan kurang lebih Rp300 juta. Setiap satu minggu. Ini hanya satu kali ya. Coba ditanya semua. Apakah penjual-penjual ini ingin pindah. Itu hampir rata-rata tidak mau. Karena disini sentral penghidupannya satu kali satu minggu.” ucap Abdul Kadir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....