Melestarikan Ritual Adat Kiwon Talu Landom Timug Bensalui

  • 10 Feb 2026 18:29 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan -  Masyarakat Adat Tidung di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, hingga kini terus melestarikan ritual adat Kiwon Talu Landom Timug Bensalui yang dikenal sebagai malam tiga malam air penyejuk. Ritual sakral ini digelar sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur sekaligus doa bersama untuk keselamatan, keharmonisan, dan keseimbangan hidup kedua mempelai dan juga keluarga.

Ritual yang dilaksanakan pada malam ketiga ini dipimpin langsung oleh tetua adat Tidung. Prosesi utama ditandai dengan penggunaan air penyejuk (Timug Bensalui) yang telah didoakan. Air tersebut menjadi simbol pembersihan diri, penolak bala, serta permohonan keberkahan bagi kedua mempelai beserta keluarga.

Kiwon Talu Landom Timug Bensalui tidak hanya bermakna sebagai ritual spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan memperkuat identitas budaya masyarakat Tidung di tengah perkembangan zaman. Dalam ritual ini terkandung berbagai simbol dan filosofi kehidupan rumah tangga.

Salah satunya adalah Raja Besila Baya Raja Temudung, yaitu tempat duduk raja. Maknanya, siapa pun yang duduk di Raja Besila akan memperoleh kehormatan serta kehidupan yang makmur, sejahtera, dan bahagia. Filosofi ini diharapkan menjadi doa agar kedua mempelai hidup langgeng, membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah, serta senantiasa menghormati orang tua dan keluarga. Raja Besila yang dilipat membentuk delapan sudut melambangkan delapan arah mata angin, dengan makna kemudahan mencari rezeki dan ilmu, baik dunia maupun akhirat.

Timug Bensalui atau air penyejuk melambangkan sumber kehidupan. Air ini diramu dari tujuh jenis tumbuhan yang bermakna keharuman dan keharmonisan rumah tangga, serta harapan agar tidak terjadi perselisihan dalam mengarungi kehidupan bersama.

Sementara itu, santan kelapa dimaknai sebagai inti kekuatan dalam rumah tangga, yang menyatukan perbedaan menjadi keharmonisan yang kekal dan abadi.

Bagas Silow (beras kuning) melambangkan makanan pokok masyarakat Tidung, dengan makna kesabaran, keuletan, dan keteguhan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Warna kuning dari kunyit melambangkan kehormatan dan kebangsawanan, dengan harapan harkat dan martabat kedua mempelai senantiasa terangkat, baik di dunia maupun akhirat.

Adapun Ayam Belungis (tikar pandan) bermakna tempat awal kedudukan dalam memulai kehidupan berumah tangga, yakni meniti kehidupan dari dasar menuju masa depan yang lebih baik.

Sedangkan tujuh lembar daun Selimbangun melambangkan semangat pantang menyerah dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Angka tujuh dipilih karena memiliki makna religius, seperti Asmaul Husna yang ganjil, serta keyakinan tentang tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, sebagai simbol saling menguatkan meski terpisah jarak.

Ibu Amelia,S.Pd.SD. sebagai Tim Pengembang Seni Budaya Kabupaten Nunukanmengatakan “Ritual ini merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga. Selain sebagai doa keselamatan, ritual ini juga menjadi pengingat agar masyarakat tetap hidup selaras dengan alam dan sesama,”09/03/2025

Pelaksanaan ritual turut disaksikan masyarakat umum, tokoh adat, serta generasi muda Tidung yang dilibatkan secara aktif agar nilai-nilai budaya tetap diwariskan. Pemerintah daerah pun memberikan dukungan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal dan penguatan kearifan lokal di Kabupaten Nunukan dan dengan ritual Kiwon Talu Landom Timug Bensalui, diharapkan adat dan budaya masyarakat Tidung tetap lestari serta menjadi kekayaan budaya daerah yang terus hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....