Potensi "Sister City" Nunukan-Tawau Program Internasional Universitas Airlangga

  • 01 Feb 2026 14:50 WIB
  •  Nunukan

RRI. CO.ID, Nunukan: Perspektif pembangunan di perbatasan kini mulai digeser ke arah persamaan budaya dan integrasi ekonomi global. Dalam pertemuan dengan Universitas Airlangga di Kantor Bupati Nunukan, Selasa (13/01/2026), Wakil Bupati Hermanus mengajak semua pihak untuk melihat hubungan antara Nunukan dan Tawau (Malaysia) sebagai peluang kerja sama strategis, bukan sekadar sumber permasalahan.

Hermanus mengungkapkan bahwa aktivitas ekonomi di Nunukan dan Tawau tumbuh secara alami karena kesamaan budaya dan bahasa. “Bila dilihat dari perbedaannya, maka akan banyak permasalahan, tetapi bila dilihat dari berbagai kesamaannya maka akan ada kesepakatan dan kerjasama, mungkin semacam Sister City,” ungkap Hermanus di depan rombongan akademisi UNAIR.

Direktur AIIOC UNAIR, Lina Puryanti dalam paparannya menjelaskan bahwa Sebatik dipilih sebagai lokasi program internasional karena posisinya yang strategis. Ia menegaskan, "Fokus kami di Sebatik bukan hanya riset di atas kertas, tapi transformasi nyata di sektor bahari melalui modernisasi teknologi perikanan dan keterlibatan generasi muda untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan," jelasnya.

Program ini tidak hanya menyasar nelayan, tetapi juga mendorong youth engagement dalam sektor perikanan modern. Penggunaan teknologi navigasi seperti GPS dan optimalisasi budidaya rumput laut menjadi prioritas guna memodernisasi cara kerja nelayan tradisional. Dengan begitu, ekonomi masyarakat Sebatik dapat tumbuh mandiri namun tetap terkoneksi dengan pasar di negara tetangga secara harmonis.

Keterlibatan Universitas Johor dalam kemitraan ini semakin mempertegas dimensi internasional dari program yang akan dilaksanakan. Universitas Airlangga berupaya menciptakan ekosistem di mana nelayan dan pelaku UMKM lokal dapat bertukar pengetahuan dengan mitra mancanegara. Langkah ini diharapkan mampu menghapus hambatan distribusi dan pasar yang selama ini dialami oleh masyarakat perbatasan.

Hermanus berharap penelitian ini mampu mendokumentasikan pengetahuan lokal bahari dan menyatukannya dengan teknologi modern. Dengan pendekatan yang melihat "persamaan" antara Nunukan dan Tawau, diharapkan akan muncul kesepakatan-kesepakatan ekonomi baru. Transformasi ekonomi berbasis teknologi ini menjadi harapan baru bagi warga Sebatik untuk menjadi pemain kunci dalam perdagangan kawasan. MM


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....