Pornografi Melemahkan Regulasi Emosi dan Ketahanan Belajar Anak
- 22 Jul 2026 10:14 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Banyak anak dan remaja tidak mengakses pornografi semata-mata karena dorongan seksual. Rasa ingin tahu, kebosanan, kesepian, stres, hingga keinginan untuk menghindari tekanan sering menjadi alasan yang mendorong mereka mencari pelarian melalui konten tersebut. Dalam kondisi ini, pornografi menawarkan kepuasan instan yang mampu mengalihkan perhatian dan mengubah suasana hati hanya dalam hitungan detik.
Kemudahan memperoleh rangsangan instan membuat sebagian anak terbiasa mencari solusi cepat setiap kali menghadapi emosi yang tidak nyaman. Sekali klik menghadirkan sensasi, sekali klik menjadi distraksi, dan sekali klik seolah mampu membuat mereka melupakan masalah untuk sementara. Pola inilah yang dapat berkembang menjadi kebiasaan apabila tidak disadari dan tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi secara sehat.
Jika perilaku tersebut terus berulang, anak berisiko belajar bahwa setiap rasa bosan, cemas, atau tertekan harus diatasi melalui rangsangan yang instan. Akibatnya, kemampuan regulasi emosi perlahan melemah. Padahal, kemampuan mengelola emosi merupakan bekal penting dalam proses belajar, karena membantu anak tetap fokus, sabar, dan mampu menyelesaikan tantangan yang membutuhkan ketekunan.
Dampaknya tidak hanya terlihat dari penurunan prestasi akademik. Lebih jauh, anak dapat kehilangan rasa percaya diri karena merasa mudah bosan, merasa tidak mampu belajar dalam waktu lama, atau kesulitan mengendalikan kebiasaan yang sebenarnya ingin dihentikan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental, motivasi belajar, dan kualitas hubungan sosial mereka.
Oleh karena itu, keluarga, sekolah, dan lingkungan perlu berperan aktif dalam membantu anak membangun strategi pengelolaan emosi yang sehat. Pendampingan yang penuh empati, komunikasi yang terbuka, serta penguatan literasi digital dapat menjadi langkah penting agar anak mampu menghadapi tekanan tanpa bergantung pada pelarian yang bersifat instan dan berisiko bagi perkembangan mereka. ( Sumber : Kemkes Ri )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....