Anak Tengah Kerap Merasa Diabaikan? Kenali Gejala Middle Child Syndrome

  • 18 Jun 2026 08:00 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Anak tengah kerap kali merasa diabaikan oleh kedua orang tua mereka. Perasaan tersebut sering kali dikaitkan dengan masalah psikologis yang dikenal dengan istilah middle child syndrome (sindrom anak tengah).

Istilah ini pertama kali muncul berdasarkan teori dari seorang psikolog bernama Alfred Adler pada tahun 1964. Menurut pandangannya, urutan kelahiran dan jumlah saudara kandung dapat memengaruhi perkembangan kepribadian, kondisi psikologis, hingga potensi yang dimiliki oleh seorang anak.

Di samping urutan kelahiran, faktor dinamika keluarga, pola hubungan antara anak dan orang tua, interaksi antar-saudara kandung, serta faktor eksternal lainnya juga turut andil dalam membentuk karakter anak.

Psikolog Rudi Cahyono menjelaskan bahwa middle child syndrome merupakan sebuah kondisi di mana anak tengah berpikir, merasa, dan bertindak sebagai bentuk pengelolaan atas harapan dan realitas terkait posisi kelahirannya, yang berada di antara kakak dan adik.

Seorang anak yang mengalami middle child syndrome biasanya menjadi lebih sensitif terhadap perlakuan orang tua, selalu berusaha menarik perhatian, hingga memunculkan reaksi tertentu seperti memberontak, menarik diri, atau mudah marah. Kondisi tersebut tentu sangat bergantung pada bagaimana cara orang tua memperlakukan dirinya maupun saudara-saudaranya yang lain.

Perlakuan orang tua yang dimaksud, misalnya, tampak saat kelahiran anak pertama, di mana orang tua dapat memberikan perhatian dan kasih sayang secara penuh. Namun, di saat anak tengah baru mulai menikmati perhatian tersebut, lahir anak ketiga (si bungsu).

Ketika momen itu terjadi, fokus dan perhatian orang tua biasanya akan lebih tercurah kepada anak ketiga, sehingga anak tengah seketika merasa terabaikan. Reaksi yang muncul dari anak tengah akibat perubahan perlakuan ini nantinya sangat bergantung pada bagaimana upaya orang tua dalam memoderasi atau mengelola situasi tersebut.

Sayangnya, orang tua biasanya akan bertindak secara alamiah sesuai dengan kapasitas energi yang mereka miliki saat itu.

Perbedaan reaksi ini pada akhirnya menjadi hal yang sangat tipikal bagi masing-masing anak. Bentuk reaksi itulah yang kemudian ikut menempa dan membentuk kepribadian si anak di masa depan.

Sumber: unair.ac.id dan psikologi.uma.ac.id

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....