Kelenturan Otak Lansia Menurun namun Tidak Hilang
- 02 Jun 2026 10:02 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Kemampuan otak untuk beradaptasi atau neuroplastisitas ternyata tidak berhenti saat seseorang memasuki usia lanjut. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, plastisitas otak memang paling aktif pada masa kanak-kanak ketika otak sangat responsif terhadap pengalaman baru. Namun, kemampuan tersebut tetap bertahan hingga usia tua meski mengalami penurunan.
Penurunan kemampuan adaptasi otak pada lansia dipengaruhi oleh berkurangnya sinyal glutamatergik dan kolinergik, yakni sistem penghantar pesan saraf di dalam otak. Selain itu, kadar neurotrofin seperti BDNF dan NGF yang berfungsi membantu pertumbuhan serta perbaikan sel saraf juga ikut menurun seiring pertambahan usia.
Kemenkes RI juga menyebut meningkatnya sitokin pro-inflamasi atau molekul pemicu peradangan membuat lingkungan kimiawi otak menjadi kurang mendukung proses belajar dan pembentukan koneksi baru antarsel saraf. Kondisi ini menyebabkan kemampuan mengingat dan mempelajari hal baru menjadi lebih lambat pada usia lanjut.
Selain faktor biologis, perubahan epigenetik turut memengaruhi kemampuan regenerasi sel otak. Perubahan ini merupakan proses penyetelan cara gen bekerja tanpa mengubah susunan DNA. Gangguan bioenergetik atau produksi energi sel juga membuat otak kekurangan “bahan bakar” untuk mendukung proses belajar dan perbaikan jaringan saraf.
Meski demikian, Kemenkes RI menegaskan usia bukanlah vonis bagi kesehatan otak. Aktivitas fisik teratur seperti berjalan kaki, bersepeda, maupun berenang serta latihan kognitif seperti membaca, bermain musik, belajar bahasa, dan aktivitas sosial terbukti membantu menjaga kelenturan otak tetap optimal pada lansia. ( Sumber : Kemkes Ri )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....