Manfaat Skrining Hipotiroid Kongenital untuk Bayi Baru Lahir

  • 09 Feb 2026 19:13 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan -  Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI mendorong pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) sebagai upaya preventif dalam mencegah retardasi mental dan stunting pada bayi baru lahir di seluruh Indonesia. SHK menjadi bagian penting dalam transformasi layanan kesehatan primer yang menekankan pencegahan sejak dini, mengingat banyak kasus kekurangan hormon tiroid pada bayi tidak menunjukkan gejala awal yang jelas. 

Hipotiroid kongenital merupakan kondisi di mana kelenjar tiroid pada bayi tidak memproduksi cukup hormon tiroid yang berperan krusial dalam perkembangan otak dan pertumbuhan fisik anak. Jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak awal, kondisi ini dapat berdampak serius termasuk gangguan pertumbuhan dan perkembangan mental yang bersifat permanen. 

Melalui program SHK, bayi baru lahir akan menjalani pemeriksaan dengan mengambil sampel darah dari tumit untuk mengukur kadar hormon tiroid. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada usia 48–72 jam setelah lahir dan dapat mendeteksi kemungkinan gangguan hipotiroid sejak awal sebelum gejala muncul. 

Jika hasil skrining menunjukkan kadar hormon tiroid yang rendah, bayi akan dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan dan pengobatan sesuai kebutuhan. Intervensi dini ini diyakini dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti keterlambatan perkembangan kognitif dan fisik yang seringkali tidak bisa diperbaiki jika baru diketahui pada usia lebih tua. 

Pemerintah juga memastikan pemeriksaan SHK didukung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sehingga semua bayi memiliki akses tanpa hambatan biaya. Survei dan pelatihan terhadap tenaga kesehatan terus ditingkatkan agar pelaksanaan skrining berjalan efektif di fasilitas kesehatan seluruh provinsi. 

Para ahli kesehatan menekankan pentingnya peran orang tua, terutama ibu, untuk memastikan bayi yang baru lahir mengikuti skrining ini sebagai bagian dari perawatan awal kehidupan. Keterlibatan keluarga dalam proses skrining dan tindak lanjut dapat membantu memastikan tumbuh kembang anak yang optimal. 

Dengan pelaksanaan SHK secara luas, diharapkan Indonesia dapat menekan angka keterlambatan perkembangan mental dan kasus stunting yang masih menjadi fokus perbaikan kesehatan anak. Upaya ini juga menjadi bagian dari langkah strategis untuk menciptakan generasi masa depan Indonesia yang lebih sehat dan produktif.(Sumber.Kemenkes)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....