Jejak Panjang BMKG: Mengapa 21 Juli Diperingati Sebagai HMKG?

  • 22 Jul 2026 09:39 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan — Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (HMKG) diperingati setiap tanggal 21 Juli. Pada peringatan HMKG ke-79, tema yang diusung adalah "BMKG Hebat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur".

Tema tersebut dimaknai sebagai pendorong semangat bagi seluruh insan BMKG untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, bekerja dengan integritas, serta mengabdi secara tulus kepada masyarakat.

Sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia dimulai pada tahun 1841 melalui pengamatan perorangan oleh Dr. Onnen, Kepala Rumah Sakit di Bogor. Seiring berjalannya waktu, kegiatan pengamatan terus berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan akan data cuaca dan geofisika.

Pada tahun 1866, kegiatan pengamatan perorangan tersebut diresmikan menjadi instansi pemerintah oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium (Observatorium Magnetik dan Meteorologi) yang dipimpin oleh Dr. Pieter Adriaan Bergsma. Selanjutnya pada tahun 1879, dibangun jaringan penakar hujan sebanyak 74 stasiun pengamatan di Pulau Jawa.

Memasuki tahun 1902, pengamatan medan magnet bumi dipindahkan dari Batavia ke Bogor. Pengamatan gempa bumi sendiri dimulai pada tahun 1908 dengan pemasangan seismograf Wiechert komponen horizontal di Batavia, sedangkan pemasangan komponen vertikal baru dilaksanakan pada tahun 1928.

Nama instansi meteorologi dan geofisika sempat mengalami beberapa kali perubahan. Misalnya, pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), namanya diubah menjadi Kishō Kōzō Kusho (Lembaga Meteorologi).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, instansi ini dipecah menjadi dua yaitu Biro Meteorologi di Yogyakarta (berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia khusus untuk melayani kepentingan Angkatan Udara) dan Jawatan Meteorologi dan Geofisika di Jakarta (di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga).

Pada tanggal 21 Juli 1947, Jawatan Meteorologi dan Geofisika diambil alih oleh Pemerintah Belanda dan namanya diganti menjadi Meteorologisch en Geofysische Dienst. Sementara itu, Pemerintah Republik Indonesia tetap mempertahankan Jawatan Meteorologi dan Geofisika yang berkedudukan di Jl. Gondangdia, Jakarta.

Peristiwa pada tanggal 21 Juli inilah yang kemudian diabadikan dan diperingati sebagai Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Setelah mengalami beberapa kali pergantian nama dan struktur, melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008, Badan Meteorologi dan Geofisika resmi berganti nama menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan status sebagai Lembaga Pemerintah Nonkementerian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....