Setegar Ebony: Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati
- 29 Jun 2026 08:16 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: "Seperti pohon ebony yang kayunya hitam pekat, kokoh, dan tak mudah lapuk oleh cuaca, begitulah seharusnya jiwa seorang wanita ditempa oleh badai kehidupan."
Pengkhianatan dalam rumah tangga sering kali menjadi pukulan paling telak yang mampu meruntuhkan dunia seorang wanita. Namun, bagi Asih Karina, badai tersebut justru menjadi titik balik penemuan jati diri dan spiritualitas yang mendalam. Lewat bukunya yang berjudul Setegar Ebony: Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati, Asih membagikan lembar demi lembar catatan emosionalnya—bukan untuk mengemis simpati, melainkan untuk menyalakan lilin harapan bagi sesama perempuan yang sedang mengalami kegelapan serupa.
1. Ketika Fondasi Kehidupan Runtuh
Buku yang di terbitkan oleh Penerbit Alvabet pada November 2025 ini, dibuka dengan potret realitas yang menyakitkan. Asih Karina secara jujur menggambarkan bagaimana hancurnya perasaan seorang istri ketika mendapati komitmen suci pernikahan dinodai oleh orang ketiga. Pembaca dibawa menyelami fase-fase psikologis yang berat:
| Baca juga: Perjalanan Hati - Menapaki Jejak Rasa |
- Penyangkalan (Denial): Ketidakpercayaan bahwa sosok yang dicintai mampu menorehkan luka sedalam itu.
- Kemarahan (Anger): Gejolak emosi atas ketidakadilan situasi.
- Penerimaan (Acceptance): Fase krusial di mana ia memilih untuk berhenti meratapi nasib dan mulai menata puing-puing hati.
Asih tidak berusaha menutupi kerapuhannya; ia menangis, ia terluka, namun ia menolak untuk terus terpuruk.
2. Filosofi Ebony: Menjadi Kokoh di Tengah Badai
Pilihan kata "Ebony" (kayu eboni) dalam judul buku ini bukanlah kebetulan. Kayu eboni dikenal sebagai salah satu kayu paling keras, kuat, dan berharga di dunia. Asih menggunakan analogi ini untuk menggambarkan transformasi jiwanya.
Melalui catatan-catatannya, ia menekankan bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak bisa merasakan sakit. Menjadi "Setegar Ebony" berarti membiarkan tekanan dan rasa sakit itu menempa diri menjadi pribadi yang lebih bernilai, anggun, dan tak tergoyahkan oleh pengkhianatan manusia.
3. Sudut Pandang Spiritual dan Pengampunan
Hal yang membedakan buku ini dari sekadar curahan hati (curhat) biasa adalah kedalaman spiritualnya. Asih Karina membawa pembaca pada kesimpulan bahwa obat terbaik dari pengkhianatan bukanlah balas dendam, melainkan keikhlasan dan pengampunan (forgiveness).
Ia membagikan bagaimana proses mendekatkan diri kepada Sang Pencipta menjadi jangkar utamanya untuk bertahan. Mengampuni, menurut Asih, bukan berarti membenarkan kesalahan pasangan, melainkan membebaskan diri sendiri dari penjara kebencian agar bisa melangkah maju dengan damai.
4. Pesan untuk Sesama Wanita
Di bagian akhir catatannya, Asih menyelipkan pesan-pesan penguatan (empowerment) bagi para istri dan perempuan di luar sana. Buku ini menjelma menjadi sebuah panduan emosional yang mengingatkan bahwa:
- Kebahagiaan seorang wanita tidak boleh digantungkan sepenuhnya pada manusia.
- Harga diri seorang istri tidak berkurang sedikit pun hanya karena seseorang gagal menghargainya.
- Selalu ada kehidupan, harapan, dan kebahagiaan baru setelah badai mereda.
Kesimpulan Jurnalis
Setegar Ebony bukan sekadar memoar tentang patah hati; ini adalah sebuah manifesto tentang resiliensi (daya bangkit) seorang perempuan. Asih Karina berhasil mengubah air mata menjadi untaian kata yang sarat hikmah. Buku ini menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa sekecil apa pun peluangnya, manusia selalu memiliki pilihan untuk bangkit dan tumbuh menjadi lebih kuat dari rasa sakitnya. (Sumber: Buku kita.com).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....