Mengungkap Rahasia Biomekanika Katak Terbang yang Mampu Meluncur Antarpohon

  • 21 Jun 2026 20:15 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan — Dunia satwa tidak pernah kehabisan cara untuk membuat manusia takjub. Jika selama ini kemampuan melayang di udara identik dengan burung, kelelawar, atau serangga, alam ternyata punya kejutan lain.

Perkenalkan "katak terbang", spesies katak pohon unik yang mendobrak hukum alam dengan kemampuan meluncur dari pohon ke pohon layaknya seorang penerjun payung. Mereka tidak benar-benar mengepakkan sayap seperti burung, melainkan memanfaatkan anatomi tubuhnya yang istimewa.

Katak ini memiliki selaput kulit yang lebar di antara jari-jari kaki dan tangannya. Saat melompat dari ketinggian canopy hutan, mereka akan merentangkan keempat kakinya, mengubah selaput tersebut menjadi "sayap" alami atau parasut darurat yang menahan laju angin dan memungkinkan mereka melayang di udara.

Rahasia Ilmiah di Balik Kemampuan Mendarat dan Menempel

Kemampuan meluncur ini tentu memicu pertanyaan besar. Bagaimana cara mereka mendarat dengan selamat di batang pohon yang licin atau bahkan bergelantungan terbalik tanpa terjatuh?

Sebuah studi mendalam yang dipublikasikan dalam Journal of The Royal Society Interface berjudul “Sticking like sticky tape: tree frogs use friction forces to enhance attachment on overhanging surfaces”, berhasil membongkar rahasia tersebut. Para peneliti menemukan bahwa katak pohon memiliki mekanisme biomekanika yang sangat canggih saat hinggap di permukaan yang miring atau menggantung:

  • Manipulasi Postur Tubuh: Saat mendarat, katak pohon secara aktif mengubah postur tubuhnya. Mereka memanjangkan anggota badan (kaki dan tangan) untuk memperluas area kontak dengan permukaan pohon.

  • Memaksimalkan Gaya Lateral: Perubahan postur ini secara otomatis meningkatkan gaya lateral (samping). Hal ini berfungsi untuk menjaga agar sudut antara vektor gaya tubuh katak dan platform tempatnya menempel tetap kecil.

  • Teori Peeling (Pengelupasan): Dengan menjaga sudut tetap kecil, katak menghasilkan gaya keterikatan (attachment force) yang jauh lebih besar. Fenomena ini mirip dengan prinsip kerja selotip (sticky tape).

Jika Anda menarik selotip dengan sudut vertikal tajam, ia akan mudah terlepas. Namun, jika ditarik sejajar atau dengan sudut kecil yang konstan terhadap permukaan, selotip akan menempel dengan sangat kuat.

"Katak pohon memanfaatkan gaya gesek (friction forces) ini sedemikian rupa untuk memperkuat cengkeraman mereka pada permukaan yang menggantung, memastikan mereka tidak terjatuh setelah melakukan peluncuran ekstrem dari pohon ke pohon." — Journal of The Royal Society Interface.

Adaptasi Sempurna Demi Bertahan Hidup

Kemampuan meluncur bak parasut dan menempel sekuat selotip ini bukanlah sekadar trik untuk pamer. Di dalam hutan belantara yang penuh dengan predator, kemampuan navigasi udara ini adalah alat pertahanan hidup yang vital.

Dengan meluncur, katak pohon dapat dengan cepat berpindah pohon untuk menghindari ular atau mamalia pemangsa. Selain itu, car aini juga dapat menghemat energi tanpa harus turun ke lantai hutan yang penuh bahaya.

Inovasi alami dari katak pohon ini membuktikan bahwa evolusi sering kali melahirkan teknologi biologis yang bahkan melampaui imajinasi manusia. Sebuah kombinasi sempurna antara parasut dan selotip yang hidup di jantung hutan tropis.

(Sumber: yupiland.com)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....