Menengok Fakta Unik Labi-Labi, si Gesit dari Perairan Tawar

  • 26 Mei 2026 21:23 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Ketika mendengar kata "kura-kura", ingatan kita pasti langsung tertuju pada hewan lamban dengan tempurung keras berbahan zat tanduk yang kuat. Namun, jika Anda menjelajahi sungai, rawa, atau danau di Asia Tenggara, Anda akan menemukan kerabat dekat mereka yang meruntuhkan stereotip tersebut yaitu labi-labi atau yang di beberapa daerah akrab disapa bulus.

Secara ilmiah, labi-labi tergabung dalam famili Trionychidae. Berbeda dari kura-kura darat (tortoise) atau penyu laut (sea turtle), satwa air tawar ini memiliki karakteristik fisik dan perilaku yang sangat unik, menjadikannya salah satu predator air tawar yang paling tangguh dan menarik untuk dipelajari.

Tempurung Fleksibel Bertekstur Kulit

Keunikan paling mencolok dari labi-labi adalah cangkangnya. Jika kura-kura lain mengandalkan tempurung keras (skut) untuk perlindungan mutlak, labi-labi justru melepaskan pertahanan kaku tersebut demi fleksibilitas.

Tempurung mereka tidak ditutupi oleh zat tanduk keras, melainkan dilapisi oleh kulit tebal yang lunak, kenyal, dan terasa seperti tulang rawan. Kehilangan "perisai baja" ini ternyata bukan tanpa alasan.

Tanpa beban tempurung yang berat, tubuh labi-labi menjadi jauh lebih ringan dan hidrodinamis. Di dalam air, mereka bukanlah hewan yang lamban, melainkan perenang yang sangat cepat, lincah, dan mahir bermanuver saat berburu ikan, katak, atau udang.

Moncong Unik Berfungsi Sebagai Snorkel

Jika Anda memperhatikan bagian kepala labi-labi, wajah mereka terlihat sangat khas berkat hidungnya yang panjang dan meruncing ke depan, mirip seperti belalai kecil. Desain hidung ini adalah bentuk adaptasi yang luar biasa untuk gaya hidup mereka yang gemar bersembunyi.

Sebagai hewan yang bernapas dengan paru-paru, labi-labi harus tetap mengambil oksigen dari udara. Dengan moncongnya yang panjang, mereka bisa tetap mengubur seluruh tubuhnya di dalam lumpur atau pasir dasar sungai, lalu perlahan menjulurkan ujung hidungnya saja ke permukaan air untuk bernapas.

Teknik ini berfungsi persis seperti pipa snorkel pada penyelam, memungkinkan mereka memantau situasi atau menunggu mangsa tanpa harus memperlihatkan diri kepada predator. Labi-labi adalah predator penyergap (ambush predator).

Mereka akan diam tak bergerak di bawah lapisan lumpur selama berjam-jam, menyamar sempurna dengan lingkungan sekitar, lalu menyerang mangsa yang lewat di dekatnya dengan sambaran leher yang sangat cepat.

"Bernapas" Melalui Tenggorokan

Salah satu kemampuan biologis labi-labi yang paling membuat para ilmuwan takjub adalah efisiensi mereka saat berada di dalam air. Beberapa spesies labi-labi mampu bertahan di dasar air dalam waktu yang sangat lama tanpa perlu muncul ke permukaan untuk mengambil napas.

Rahasianya terletak pada kemampuan bernapas akuatik sekunder. Lapisan dalam tenggorokan labi-labi memiliki struktur khusus yang kaya akan pembuluh darah kecil (kapiler).

Saat mereka mengalirkan air masuk dan keluar melalui mulut, struktur di tenggorokan ini mampu menyerap oksigen langsung dari air secara difusi, mirip dengan cara kerja insang pada ikan.

Sisi Lain: Ancaman Eksploitasi dan Kelestarian

Di balik keunikan adaptasinya, labi-labi kini menghadapi tantangan besar untuk bertahan hidup di alam liar. Di berbagai belahan dunia, khususnya di Asia, komoditas labi-labi mengalami tekanan populasi yang hebat akibat perburuan liar untuk konsumsi kuliner eksotis dan bahan obat tradisional.

Beberapa spesies, seperti Labi-Labi Raksasa Yangtze (Rafetus swinhoei), bahkan telah berada di ambang kepunahan total dengan hanya menyisakan segelintir individu saja di dunia. Mengenal fakta dan keunikan labi-labi bukan sekadar memuaskan rasa ingin tahu kita terhadap kekayaan satwa, melainkan menjadi pengingat penting bahwa ekosistem air tawar kita sedang kehilangan salah satu penjaga keseimbangan alamnya yang paling gigih.

(Sumber: yupiland.com)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....