Menolak Tunduk pada 'Kapan Nikah?' di Novel Quatre

  • 25 Mei 2026 08:48 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Bagi sebagian besar perempuan urban, pertanyaan "kapan nikah?" bukan lagi sekadar basa-basi ramah tamah di tengah kumpul keluarga. Pertanyaan tersebut kerap bergeser menjadi sebuah penghakiman sosial yang merendahkan pencapaian hidup individu. Fenomena sosial inilah yang dipotret secara tajam sekaligus realistis oleh penulis Venita Beauty melalui novelnya yang berjudul Quatre.

Melalui karakter utama bernama Rosita, atau yang akrab disapa Tata (28), novel ini membawa pembaca masuk ke dalam pusaran konflik klasik masyarakat modern: benturan antara pemenuhan impian pribadi dan ekspektasi sosial seputar pernikahan.

Mandiri secara Finansial, Terpuruk oleh Stigma

Di usianya yang menjelang kepala tiga, Tata sebenarnya berada di posisi yang diidamkan banyak orang. Ia memiliki pendidikan yang baik, karier yang stabil, dan berhasil mewujudkan impian lamanya: mendirikan sebuah toko roti bernama Iris’ Kitchen.

Namun, kenyamanan hidup yang ia bangun dengan kerja keras mendadak terusik ketika Iris’ Kitchen berada di ambang kebangkrutan akibat sepi peminat. Di tengah perjuangan gigihnya kembali menjadi pekerja kantoran demi mencari modal tambahan, tekanan terbesar justru datang dari lingkaran terdekatnya sendiri - sang ibu.

"Bukan pertanyaan orang tuaku yang bikin aku sebal dengan pernikahan, tapi orang-orang yang punya anggapan bahwa menikah adalah satu-satunya happy ending." - Kutipan Novel Quatre

Sang ibu, Bu Rindu, mendesak Tata untuk menutup bisnisnya dan segera menikah dengan pria mapan mana saja. Alasan di baliknya sangat klise namun nyata terjadi di masyarakat: sang ibu tidak tahan melihat putrinya menjadi bahan gosip para tetangga hanya karena masih melajang di usia puncaknya.

Trauma Masa Lalu dan Definisi Bahagia

Quatre tidak hanya bicara soal keras kepalanya seorang perempuan karier, melainkan mengupas lapisan psikologis yang lebih dalam. Venita Beauty perlahan menguak bahwa keengganan Tata untuk terburu-buru menuju pelaminan bukan tanpa alasan. Tata menyimpan pengalaman kelam dan trauma masa lalu yang sengaja ia sembunyikan dari orang tuanya sendiri—di mana latar belakang keluarga yang broken home hanyalah satu dari sekian pemicunya.

Novel yang diterbitkan oleh Penerbit Diandra Primamitra pada Maret 2022 ini, berhasil membalikkan narasi arus utama (mainstream) yang selalu mendewakan pernikahan sebagai garis finis kebahagiaan universal. Lewat sudut pandang Tata, penulis menegaskan bahwa bagi sebagian perempuan, mewujudkan impian dan mempertahankan ruang aman bagi diri sendiri adalah bentuk happy ending yang tidak kalah valid.

Secara keseluruhan, artikel jurnalistik atas buku Quatre ini memperlihatkan bahwa Venita Beauty tidak sedang menyajikan kisah romansa dongeng yang manis. Ia sedang menulis sebuah refleksi sosial yang menyentil pembaca: bahwa menghargai pilihan hidup seorang perempuan apakah ia memilih mengejar mimpi atau menikah adalah bentuk penghormatan paling mendasar terhadap kemanusiaan mereka. (Sumber: Buku kita.com).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....