Ikan Sapu-Sapu: Antara Hama Perairan dan Potensi Pangan Alternatif

  • 14 Feb 2026 09:42 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Di banyak sungai dan danau di Indonesia, masyarakat sering menjumpai ikan berwarna gelap dengan tubuh keras dan mulut seperti alat penyedot yang menempel di dasar perairan. Ikan itu dikenal luas sebagai ikan sapu-sapu.

Meski sering dianggap hama, keberadaan ikan ini sebenarnya menyimpan cerita tentang ekologi, invasi spesies, hingga potensi pangan alternatif. Ikan sapu-sapu bukanlah spesies asli Indonesia.

Secara ilmiah, ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan termasuk kelompok ikan lele lapis baja (armored catfish) dari famili Loricariidae. Spesies yang paling umum ditemukan di Indonesia antara lain, pterygoplichthys pardalis dan hypostomus plecostomus.

Ikan ini pertama kali masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias akuarium. Karena mampu bertahan hidup di berbagai kondisi, sebagian dilepas ke perairan umum dan kemudian berkembang pesat menjadi spesies invasif.

Mengapa Disebut Sapu-Sapu?

Nama “sapu-sapu” berasal dari kebiasaan ikan ini yang mengisap lumut, alga, dan kotoran di dasar perairan atau dinding akuarium. Mulutnya berbentuk seperti penyedot (suction cup), sehingga ia dapat menempel kuat di batu atau permukaan lain bahkan saat arus deras. Di alam liar, perilaku ini membuatnya mampu bertahan di sungai keruh, danau dangkal, hingga perairan tercemar sekalipun.

Ancaman bagi Ekosistem

Meski tampak tidak berbahaya, ledakan populasi ikan sapu-sapu dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Beberapa dampaknya antara lain, bersaing dengan ikan lokal untuk makanan dan ruang hidup, merusak dasar sungai karena kebiasaan menggali lubang untuk bertelur, mengganggu alat tangkap nelayan, dn memakan telur ikan lain.

Di beberapa daerah Indonesia, populasi ikan ini begitu dominan hingga nelayan kesulitan menangkap ikan konsumsi asli seperti nila atau mujair.

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan?

Pertanyaan ini sering muncul di masyarakat. Secara umum, ikan sapu-sapu sebenarnya dapat dimakan, dan di beberapa negara bahkan dikonsumsi.

Dagingnya berwarna putih dan tinggi protein. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Hidup di perairan tercemar → berpotensi mengandung logam berat

2. Kulit sangat keras → sulit dibersihkan

3. Rasa cenderung hambar

4. Bau lumpur jika berasal dari air kotor

Karena itu, ikan ini hanya aman dikonsumsi jika berasal dari perairan bersih dan diolah dengan benar. Di beberapa daerah Indonesia, ikan sapu-sapu sudah diolah menjadi abon ikan, kerupuk ikan, bakso ikan, dan pakan ternak

Dari Hama Menjadi Sumber Ekonomi

Alih-alih hanya dianggap hama, sejumlah komunitas mulai memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku produk pangan dan pakan. Pendekatan ini sekaligus membantu mengendalikan populasinya di alam.

Pemanfaatan spesies invasif sebagai sumber ekonomi dikenal sebagai strategi “eat the invader”, yaitu mengurangi populasi hama dengan menjadikannya komoditas.

Ikan sapu-sapu memang menjadi tantangan bagi ekosistem perairan Indonesia. Namun, di sisi lain, ia juga membuka peluang pemanfaatan baru sebagai sumber protein dan ekonomi lokal. (Sumber: perpusnas.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....