Membangun Jiwa di Bawah Naungan Rindang Sekolah Pohon

  • 31 Jan 2026 10:01 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Di tengah gempuran arsitektur modern yang seringkali kaku dan terpisah dari alam, sosok arsitek legendaris Eko Prawoto melalui bukunya, Sekolah Pohon, membawa kita kembali ke akar: bahwa membangun bukan sekadar menyusun bata, melainkan merawat kehidupan. Buku ini bukan sekadar portofolio arsitektur, melainkan sebuah manifesto tentang bagaimana ruang belajar seharusnya berinteraksi dengan ekosistemnya. Melalui narasi yang puitis namun membumi, Eko Prawoto membagikan filosofi di balik proyek-proyeknya yang mengedepankan kelestarian dan kemanusiaan. Salah satu poin utama dalam Sekolah Pohon adalah konsep arsitektur partisipatif. Eko menekankan bahwa bangunan tidak boleh menjadi benda asing yang "menjajah" tapak tanahnya. Sebaliknya, bangunan harus "mendengar" suara angin, arah matahari, dan kebutuhan komunitas lokal.

Dalam proyek Sekolah Pohon, pohon-pohon lama tidak ditebang untuk memberi ruang bagi semen; justru bangunanlah yang meliuk, menyesuaikan diri dengan keberadaan pohon tersebut. Eko dikenal sebagai maestro material lokal. Dalam buku ini, ia menjelaskan mengapa penggunaan bambu, kayu bekas, dan batu alam jauh lebih bermakna daripada material industri yang masif.

  • Keberlanjutan: Mengurangi jejak karbon.
  • Estetika: Memberikan kehangatan visual yang tidak dimiliki beton.
  • Koneksi: Menciptakan rasa kepemilikan bagi perajin lokal yang mengerjakannya.

Filosofi "Sekolah Pohon" memandang bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas antara guru dan murid. Ruang terbuka, bayangan daun di lantai, dan sirkulasi udara alami adalah "guru" yang mengajarkan anak-anak tentang harmoni dan kerendahan hati.

"Bangunan adalah perpanjangan dari alam, bukan pemisahnya," tulis Eko dalam salah satu fragmen pemikirannya.

Melalui Sekolah Pohon yang di terbitkan oleh Bypass pada 2016 ini, pembaca diajak untuk merenungkan kembali arah pembangunan kita. Apakah kita membangun untuk sekadar pamer kemajuan, atau membangun untuk keberlangsungan hidup? Buku ini adalah pengingat lembut bahwa di bawah naungan pohon, kita tidak hanya belajar membaca buku, tetapi juga belajar membaca semesta.

Arsitektur, bagi Eko Prawoto, adalah alat untuk memuliakan kemanusiaan dan merayakan alam. Sebuah pesan yang sangat relevan di tengah krisis iklim yang melanda dunia saat ini. (Sumber: Buku kita.com).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....