Menelusuri Jejak Seni Dari Firenze Hingga Jakarta

  • 31 Jan 2026 09:37 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Apa jadinya jika kemegahan Renaisans di Italia bertemu dengan dinamika seni kontemporer di Ibu Kota? Penulis dan kurator seni, Ewith Bahar, menjawab kegelisahan tersebut melalui bukunya yang bertajuk Dari Firenze ke Jakarta. Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan sebuah dialog mendalam mengenai bagaimana estetika global membentuk identitas seni lokal. Buku ini dibuka dengan narasi memukau tentang Firenze (Florence), kota yang dianggap sebagai rahim kesenian dunia. Ewith membawa pembaca menyusuri koridor-koridor galeri di Italia, membedah filosofi di balik karya maestro seperti Michelangelo dan Da Vinci, bukan hanya sebagai objek visual, melainkan sebagai fondasi pemikiran manusia modern. Namun, daya tarik utama buku ini terletak pada transisinya. Ewith secara cerdas menarik garis merah dari kanal-kanal seni di Eropa menuju riuh rendah skena seni di Jakarta. Ia mempertanyakan bagaimana pengaruh Barat—yang masuk melalui sejarah panjang kolonialisme hingga globalisasi—berasimilasi dengan nilai-nilai keindonesiaan.

Poin Utama yang Diangkat:

· Apresiasi Seni yang Humanis: Ewith menekankan bahwa seni bukan hanya milik kaum elit di galeri mewah, melainkan instrumen untuk memahami kemanusiaan.

· Perbandingan Budaya: Analisis mengenai perbedaan cara pandang masyarakat Eropa dan Indonesia dalam menjaga serta menghargai warisan sejarah.

· Kritik Seni: Penulis memberikan catatan kritis terhadap perkembangan infrastruktur seni di Jakarta yang terus berbenah namun seringkali kehilangan "ruh" karena komersialisasi.

"Seni bukan sekadar pajangan di dinding; ia adalah cermin dari peradaban yang sedang kita bangun," tulis Ewith dalam salah satu babnya yang paling provokatif.

Sebagai penulis yang berpengalaman, Ewith menggunakan diksi yang puitis namun tetap aksesibel bagi pembaca awam. Ia menghindari jargon teknis yang membosankan, membuat pembahasan mengenai sejarah seni yang berat terasa seperti obrolan santai di kedai kopi.

Buku yang diterbitkan oleh Prenada Media Group BP pada tahun 2015 ini, menjadi panduan penting bagi mahasiswa seni, kolektor, maupun masyarakat umum yang ingin memahami mengapa kita perlu peduli pada sebuah goresan kanvas atau pahatan patung di ruang publik. (Sumber: Buku Kita.com).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....