Hari Arak Bali, Menjaga Tradisi, Mengangkat Ekonomi Lokal
- 28 Jan 2026 12:22 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Setiap tanggal 29 Januari, masyarakat Bali merayakan Hari Arak Bali. Sejak ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Gubernur Bali pada akhir tahun 2022, peringatan ini menjadi momentum penting untuk memuliakan warisan budaya sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Dari Tradisi Menuju Legalitas
Dahulu, Arak Bali sering dipandang sebelah mata atau bahkan dianggap sebagai produk ilegal. Namun, paradigma ini berubah total sejak terbitnya Pergub Bali No. 1 Tahun 2020.
Regulasi ini memberikan perlindungan hukum bagi para perajin arak tradisional. Selain itu, untuk memastikan bahwa minuman ini diproduksi dengan standar keamanan yang baik tanpa meninggalkan cara-cara tradisional yang sakral.
Bukan Sekadar Minuman
Bagi masyarakat Bali, arak memiliki fungsi yang mendalam:
| Baca juga: Asal Muasal Penyusunan Kalender Hijriyah |
- Sarana Upacara: Digunakan dalam ritual keagamaan (tabuh-tabuhan) sebagai simbol keseimbangan alam.
- Kesehatan: Dikonsumsi dalam dosis kecil untuk menghangatkan tubuh atau sebagai campuran obat tradisional.
- Persaudaraan: Menjadi pelengkap dalam interaksi sosial masyarakat di banjar-banjar.
Mendorong Ekonomi Kreatif
Peringatan Hari Arak Bali bertujuan untuk memperkenalkan "Arak Bali" sebagai minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali yang setara dengan minuman dunia lainnya seperti Sake dari Jepang atau Soju dari Korea. Dengan kemasan yang lebih modern dan legalitas yang jelas, Arak Bali kini mulai masuk ke hotel-hotel berbintang dan pasar ekspor, yang secara langsung meningkatkan kesejahteraan para petani kelapa dan enau.
Pupuk Semangat "Minum yang Bijak"
Pesan utama dari Hari Arak Bali bukanlah ajakan untuk mabuk-mabukan, melainkan ajakan untuk mengapresiasi kualitas dan proses pembuatannya. Ini adalah bentuk penghormatan kepada para perajin lokal yang menjaga teknik destilasi turun-temurun dengan penuh dedikasi.
Arak Bali adalah warisan budaya tak benda Indonesia. Mari kita jaga keberlanjutannya dengan mendukung produk asli perajin lokal dan tetap mengonsumsinya secara bertanggung jawab. (Sumber: @balitourismauthority)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....