Dry (Kering): ketika Setetes Air Lebih Berharga dari Nyawa Manusia

  • 24 Apr 2026 20:49 WIB
  •  Nunukan
Poin Utama
  • Mengisahkan tentang peristiwa kekeringan yang melanda suatu kota hingga akhirnya menimbulkan kekacauan yang tak terkendali

RRI.CO.ID, Nunukan: "Kekeringan itu seperti kanker," begitu analogi yang tertulis dalam novel karya Neal dan Jarrod Shusterman yang berjudul “Dry” (Kering). Tidak terlihat, efeknya tidak terasa secara instan seperti bencana alam lainnya, namun mematikan karena dapat membunuh perlahan-lahan.

Bagaimana jadinya jika sebuah wilayah mendadak kehilangan air? Air keran mendadak tidak mau menyala, orang-orang kekurangan air hingga akhirnya terjadi kekacauan yang ditimbulkan karena mereka rela melakukan apapun demi mendapatkan setetes air. Itulah yang menjadi permasalahan utama yang diangkat dalam novel tersebut.

Krisis Air, Peristiwa ‘Keran-Mati’

Dalam buku ini diceritakan bahwa telah terjadi krisis air mendadak. Saat itu, orang-orang yang tinggal di wilayah California Selatan, Amerika Serikat, sedang bersantai, bercengkrama dengan keluarga atau tetangga dengan hangat dan penuh senyuman. Namun situasi berubah drastis setelah mereka menyadari air keran di rumah mereka tidak mengalir. Kejadian ini disebut sebagai peristiwa ‘kekeringan keran-mati’.

Plot Diceritakan dari berbagai Sudut Pandang

Cerita berpusat pada Alyssa, Garret dan Kelton. Alyssa dan Garret adalah kakak beradik yg kehilangan orang tuanya beberapa hari setelah kejadian Keran-Mati. Saat itu orang tua Alyssa dan Garret pamit pergi mencari air karena katanya sedang ada pembagian air dari pemerintah. Namun setelah beberapa hari, orang tuanya tidak kunjung kembali.

Selain Alyssa dan Garrett, diceritakan pula seorang tokoh bernama Kelton. Kelton adalah anak tetangga dari keluarga yang dipandang aneh karena kerap melanggar hukum demi membangun fasilitas pencegahan bencana pribadi mereka. Namun pada akhirnya ketika terjadi krisis air parah, para tetangga berbondong-bondong meminta bantuan keluarga Kelton.

Zombie Air: Setetes Air yang Lebih Berharga dari Nyawa

Cerita semakin rumit ketika masuk tokoh-tokoh lain yang membuat situasi semakin kacau Jacqui dan Henry. Ditambah lagi, ketika krisis air makin parah, orang-orang pun mulai bertindak anarkis. Korban akhirnya berjatuhan, pengkhianatan semakin merajalela dan orang-orang tega saling membunuh demi setetes air.

Melansir dari BBC, kehausan yang ekstrem rupanya memang dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif dan perilaku. Kadang-kadang digambarkan secara metaforis seperti "zombie", tampak bingung lemas dan tidak fokus. Atau bisa juga dalam situasi kelangkaan ekstrem, seperti bencana atau krisis air dalam cerita ini yang memicu perilaku berebut sumber daya air.

‘krisis air' begitulah istilah yang digunakan media untuk menyebut 'kekeringan'. Seperti bagaimana 'pemanasan global' berganti menjadi 'perubahan iklim' dan 'perang' menjadi 'konflik'

(Sumber: E-Book “Dry (Kering)” karya Neal Shusterman dan Jarrod Shusterman)

BACA JUGA: The Graveyard Book: Menemukan Keluarga di Tempat Paling Tak Terduga

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....