Mengurai Beban "Anak Sulung" Melalui Karya Delia Putri Muhadi

  • 31 Mar 2026 11:07 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Menjadi anak pertama sering kali dianggap sebagai sebuah kebanggaan—pionir bagi adik-adiknya dan tumpuan harapan orang tua. Namun, di balik pundak yang tampak kokoh itu, tersimpan beban emosional yang jarang disuarakan.

Melalui buku terbarunya, Ternyata Anak Pertama yang Penuh Luka Itu Aku, penulis Delia Putri Muhadi mencoba menyuarakan jeritan hati yang terbungkus dalam tanggung jawab tersebut. Diterbitkan oleh Gradien Mediatama pada 20 Juni 2025, buku ini seketika menjadi cermin bagi jutaan anak sulung di Indonesia yang selama ini merasa harus "selalu kuat" demi keutuhan keluarga.

Antara Ekspektasi dan Realitas Diri

Dalam buku ini, Delia Putri Muhadi membedah fenomena psikologis yang sering dialami anak sulung, mulai dari sindrom pengasuh (caregiver syndrome) hingga tekanan untuk menjadi sempurna. Penulis menekankan bahwa banyak anak pertama yang tumbuh dengan mengabaikan kebutuhan emosional mereka sendiri demi memenuhi standar yang ditetapkan oleh lingkungan.

Beberapa poin sentral yang dieksplorasi dalam buku ini meliputi:

  • Beban Tak Kasatmata: Bagaimana peran sebagai "wakil orang tua" sering kali merampas masa kecil dan masa remaja seorang anak pertama.

  • Luka Pengabdian: Perasaan bersalah yang muncul ketika anak sulung ingin mengejar mimpinya sendiri namun terhambat oleh tanggung jawab keluarga.

  • Proses Pemulihan (Healing): Langkah-langkah untuk mengenali luka masa lalu dan mulai memberikan kasih sayang kepada diri sendiri (inner child).

Narasi yang Jujur dan Menggetarkan

Gaya penulisan Delia dalam buku ini terasa sangat personal dan berani. Ia tidak ragu untuk memaparkan kerentanan yang biasanya disembunyikan oleh para anak sulung. Gradien Mediatama mengemas buku ini dengan alur yang membawa pembaca dari fase menyadari luka menuju fase penerimaan dan penyembuhan.

Buku ini bukan bermaksud untuk menyalahkan pola asuh orang tua, melainkan untuk memberikan pemahaman bahwa setiap anggota keluarga memiliki batas kapasitas emosionalnya masing-masing.

"Menjadi anak pertama bukan berarti kamu harus kehilangan dirimu sendiri untuk menyelamatkan orang lain. Kamu juga berhak untuk tidak baik-baik saja."

Relevansi Sosial di Era 2026

Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental keluarga di tahun 2026, karya Delia Putri Muhadi ini hadir sebagai jembatan komunikasi antara anak dan orang tua. Buku ini membantu para pembaca memahami bahwa ketahanan seorang anak sulung bukanlah alasan untuk terus memberikan beban tanpa henti.

Ternyata Anak Pertama yang Penuh Luka Itu Aku menjadi sangat relevan bagi generasi muda yang sedang berusaha memutus rantai trauma antargenerasi (intergenerational trauma) dan membangun batasan yang lebih sehat dalam hubungan keluarga. Buku ini juga menjadi sebuah pengakuan jujur yang membebaskan.

Melalui buku ini, Delia Putri Muhadi berhasil membuktikan bahwa mengakui luka bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju kedewasaan yang lebih sehat. Buku ini adalah bacaan wajib, tidak hanya bagi para anak sulung, tetapi juga bagi setiap orang tua yang ingin memahami dunia batin anak pertama mereka secara lebih mendalam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....