"Resilient Grieving" Tawarkan Pendekatan Proaktif dalam Menghadapi Kehilangan
- 31 Mar 2026 10:41 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Berduka sering kali dianggap sebagai proses pasif di mana waktu adalah satu-satunya penyembuh. Namun, melalui buku fenomenal Resilient Grieving: Panduan Menemukan Kekuatan dalam Proses Berduka, pakar ketahanan diri Dr. Lucy Hone membedah asumsi tersebut.
Diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh Bhuana Ilmu Populer (BIP) pada 15 Agustus 2025, buku ini menjadi panduan krusial bagi siapa pun yang sedang berupaya bangkit dari puing-puing kehilangan. Dr. Lucy Hone, yang menulis buku ini berdasarkan riset akademik sekaligus pengalaman pribadinya kehilangan sang putri, menawarkan metode yang ia sebut sebagai resilient grieving—sebuah cara berduka yang tangguh.
Berduka Bukan Berarti Menyerah
Premis utama buku ini menantang model tradisional "tahapan berduka" yang selama ini dikenal masyarakat. Dr. Hone menekankan bahwa manusia memiliki kemampuan alami untuk beradaptasi, bahkan setelah tragedi yang paling menyakitkan sekalipun.
Ia mengajak pembaca untuk tidak sekadar "tenggelam" dalam duka, melainkan secara sadar memilih pikiran dan tindakan yang membantu pemulihan. Poin-poin penting yang dibahas dalam buku ini meliputi:
Penerimaan Realitas: Memahami bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan manusia, namun tidak harus menjadi akhir dari kebahagiaan.
Fokus yang Selektif: Mengarahkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan dan disyukuri, alih-alih terpaku pada apa yang telah hilang.
Strategi "Self-Help" yang Praktis: Langkah-langkah konkret untuk mengelola emosi negatif agar tidak berkembang menjadi depresi berkepanjangan.
Narasi Berbasis Empati dan Sains
Sebagai seorang peneliti di bidang psikologi positif, Dr. Hone menggabungkan data ilmiah dengan narasi yang sangat manusiawi. Bhuana Ilmu Populer mengemas buku ini sebagai alat bantu yang praktis, dilengkapi dengan latihan-latihan yang dapat diterapkan langsung oleh pembaca dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu kutipan kuat dalam buku ini mengingatkan pembaca tentang kontrol diri:
"Kita tidak bisa memilih apa yang terjadi pada kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita meresponsnya. Memilih untuk tetap hidup dengan bermakna adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi mereka yang telah tiada."
Relevansi di Masa Kini
Di tahun 2026, di mana masyarakat dunia semakin menyadari pentingnya kesehatan mental, Resilient Grieving hadir sebagai kompas yang sangat dibutuhkan. Buku ini memberikan validasi bahwa merasa hancur adalah hal yang wajar, namun menetap dalam kehancuran bukanlah satu-satunya pilihan.
Pendekatan Dr. Hone sangat relevan bagi masyarakat urban yang sering kali dituntut untuk segera "pulih" tanpa diberikan perangkat yang memadai untuk memproses rasa sakit mereka secara sehat.
Resilient Grieving bukan sekadar buku teori psikologi; ia adalah sebuah pelampung bagi mereka yang merasa tenggelam dalam kesedihan. Melalui karya ini, Dr. Lucy Hone dan penerbit Bhuana Ilmu Populer berhasil memberikan pesan kuat bahwa kekuatan tidak datang dari ketiadaan rasa sakit, melainkan dari keberanian untuk terus berjalan berdampingan dengan rasa sakit tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....