5 Rekomendasi Novel Tema Keresahan Sosial dan Perjuangan

  • 29 Mar 2026 21:07 WIB
  •  Nunukan
Poin Utama
  • Ada banyak penulis Indonesia yang telah menelurkan karya-karya novel fenomenal dengan berbagai tema, salah satunya adalah keresahan sosial

RRI.Co.Id, Nunukan: Jika kamu gemar membaca novel dengan tema perjuangan individu melawan batasan budaya dan politik, karya-karya dari penulis top Indonesia ini wajib masuk ke wishlist kamu! Simak ulasannya sampai habis, ya!

1. “Bumi Manusia” oleh Pramoedya Ananta Toer (1980)

Berlatarkan akhir abad ke-19, novel ini mengisahkan Minke, seorang pemuda Jawa cerdas yang menempuh pendidikan di sekolah Belanda (HBS). Sebagai pribumi, Minke mengalami pergolakan batin saat menyadari ketidakadilan sistem kolonial yang memandang rendah bangsanya.

Cerita semakin rumit ketika Minke jatuh cinta pada Annelies Mellema, seorang gadis Indo (campuran Jawa-Belanda). Melalui hubungan ini, Pramoedya memperlihatkan betapa hukum kolonial sangat diskriminatif, terutama melalui sosok Nyai Ontosoroh, ibu Annelies, yang berjuang keras mempertahankan hak dan martabatnya di hadapan hukum bangsa kulit putih.

2. “Pulang” oleh Leila S. Chudori (2012)

"Pulang" mengisahkan perjalanan seorang eksil politik bernama Dimas Suryo. Pasca peristiwa 1965 di Jakarta, Dimas dan tiga temannya kehilangan kewarganegaraan dan terpaksa menetap di Paris, Prancis. Mereka membangun kehidupan baru dengan mendirikan restoran Indonesia, namun hati mereka selalu tertinggal di tanah air.

Novel ini mengeksplorasi rasa rindu, pengasingan, dan pencarian identitas. Cerita berlanjut hingga tahun 1998, saat anak Dimas yang bernama Lintang Utara pulang ke Jakarta untuk merekam sejarah kelam yang dialami ayahnya, tepat di tengah momen demonstrasi besar-besaran yang mengubah sejarah Indonesia.

3. “Tarian Bumi” oleh Oka Rusmini (2000)

Novel ini menyelami kehidupan masyarakat Bali dengan fokus pada isu kasta dan posisi perempuan. Tokoh utamanya, Telaga, adalah seorang perempuan dari kasta bangsawan (Brahmana). Namun, ia memilih untuk mendobrak tradisi dengan menikah dengan pria dari kasta rendah (Sudra) demi cinta.

Keputusan Telaga membawa konsekuensi berat; ia harus kehilangan gelar kebangsawanannya dan beradaptasi dengan realitas sosial yang keras. Oka Rusmini menggambarkan bagaimana adat dan budaya terkadang menjadi penjara bagi kebebasan perempuan.

4. “Salah Asuhan” oleh Abdul Muis (1928)

Karya klasik ini menceritakan Hanafi, seorang pria Minangkabau yang merasa dirinya lebih "Eropa" daripada bangsa sendiri karena pendidikannya. Ia jatuh cinta pada Corrie du Busse, seorang gadis Indo-Belanda, hingga rela meninggalkan adat istiadatnya dan mendurhakai ibu kandung dan juga isteri sahnya.

Tragedi muncul ketika identitas baru yang dipaksakan Hanafi justru membuatnya terombang-ambing. Ia tidak diterima sepenuhnya oleh kalangan Eropa dan sudah terasing dari kaumnya sendiri. Novel ini sangat luar biasa dalam menggambarkan konflik identitas budaya di masa pra-kemerdekaan.

5. “Laut Bercerita” oleh Leila S. Chudori (2017)

Mengisahkan Biru Laut, seorang mahasiswa aktivis yang bersama kawan-kawannya berjuang menentang rezim otoriter. Mereka diculik, disekap, dan disiksa di sebuah tempat rahasia yang tak dikenal.

Hal yang menarik dari novel ini adalah pada bagian ketika Leila S. Chudori menceritakan dari sudut pandang keluarga yang ditinggalkan. Melalui sosok Asmara Jati (adik Laut), kita melihat perjuangan keluarga korban penghilangan paksa tahun 1998 yang terus menuntut kejelasan dan keadilan atas anggota keluarga mereka yang tak kunjung pulang.

(Sumber: Gramedia)

BACA JUGA: Rekomendasi Novel Fantasi Berlatar Belakang Budaya Asia, Ada dari Indonesia

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....