Seni Merangkul Kepedihan: Mengapa Luka Harus Dirayakan, Bukan Disembunyikan
- 25 Jun 2026 10:14 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Selama ini, narasi arus utama dalam industri pengembangan diri selalu mendikte kita untuk mengejar kebahagiaan seolah-olah itu adalah satu-satunya tujuan hidup. Kita dipaksa tersenyum di balik kepedihan dan mengubur rapat-rapat kegagalan demi menjaga fasad "baik-baik saja".
Namun, sebuah buku terbitan terbaru dari C-Klik Media (2 Juni 2026) garapan penulis Ferry Setiawan hadir untuk mendobrak dogma tersebut. Melalui bukunya yang bertajuk Seperti Bahagia, Luka Juga Perlu Dirayakan, Ferry menawarkan sebuah manifesto emosional yang segar yaitu bahwa kesedihan, patah hati, dan kegagalan memiliki hak yang sama untuk diakui dan "dirayakan" layaknya sebuah pencapaian.
Meruntuhkan Tembok Toxic Positivity
Dalam buku setebal lembaran sarat perenungan ini, Ferry Setiawan secara berani membedah fenomena toxic positivity yang kerap menjebak masyarakat modern. Penulis berargumen bahwa menolak rasa sakit hanya akan menumpuk bom waktu emosional di masa depan.
"Luka bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti otentik bahwa kita telah berani berjuang dan merasakan," tulis Ferry dalam salah satu babnya.
Buku ini tidak ditulis dengan nada menggurui layaknya diktat psikologi yang kaku. Ferry memilih pendekatan esai reflektif yang intim, memadukan kisah-kisah penuh empati dengan analogi sederhana yang dekat dengan keseharian pembaca. Ia mengajak kita melihat luka bukan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai sebuah proses metamorfosis yang niscaya.
Tiga Pilar "Merayakan" Luka
Secara garis besar, artikel-artikel reflektif dalam buku ini menuntun pembaca melalui tiga fase penting dalam berdamai dengan rasa sakit:
Validasi Emosi (Mengakui): Langkah pertama adalah berhenti berpura-pura tangguh. Menangis, kecewa, dan merasa hancur adalah respons manusiawi yang valid.
Dekompresi (Merasakan): Memberikan ruang dan waktu bagi diri sendiri untuk benar-benar merasakan kesedihan tersebut tanpa buru-buru mencari pelarian.
Integrasi (Merayakan): Menjadikan bekas luka tersebut sebagai bagian dari identitas baru yang lebih bijaksana dan resilien.
Ferry menekankan bahwa "merayakan" di sini bukan berarti bersenang-senang di atas penderitaan, melainkan sebuah bentuk penghormatan tertinggi terhadap proses penyembuhan diri (healing) yang jujur.
Oase di Tengah Tuntutan Zaman
Kehadiran Seperti Bahagia, Luka Juga Perlu Dirayakan menjadi sangat relevan di tengah era media sosial, di mana semua orang berlomba memamerkan sisi terbaik hidup mereka. Buku ini bertindak sebagai rem darurat, mengajak pembaca untuk melambat, menarik napas dalam-dalam, dan menerima ketidaksempurnaan hidup.
Bagi siapa saja yang sedang berjuang menyembuhkan patah hati, meratapi kegagalan karier, atau sekadar lelah berpura-pura bahagia, karya Ferry Setiawan ini adalah sebuah pelukan hangat dalam bentuk literasi. Buku ini menegaskan kembali bahwa untuk menjadi utuh, kita tidak hanya perlu merayakan cahaya, tetapi juga harus berani berdansa dengan kegelapan.
(Sumber: gramedia.com)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....