Pesan Damai di Balik Buku 'Santai Saja, Hidup Tidak Harus Hebat'

  • 24 Jun 2026 22:06 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Hidup di tengah kepungan media sosial sering kali menjebak kita dalam standar pencapaian yang melelahkan. Ada narasi tak tertulis bahwa untuk diakui sebagai orang yang sukses, bahagia, dan bermanfaat, seseorang harus mampu melakukan hal-hal besar.

Kita dituntut memiliki karier mentereng, status sosial yang tinggi, kekuasaan yang luas, atau pencapaian finansial yang dahsyat. Akibatnya, banyak dari kita yang merasa cemas, kelelahan, dan merasa "bukan siapa-siapa" saat kehidupan berjalan biasa-biasa saja.

Menjawab keresahan mental generasi hari ini, penulis Muhammad Rois Almaududy hadir membawa sudut pandang yang kontradiktif namun menenangkan lewat bukunya, Santai Saja, Hidup Tidak Harus Hebat. Diterbitkan oleh Penerbit Checklist pada 20 Oktober 2025, buku setebal 184 halaman ini bertindak bagai oase spiritual yang mengajak pembaca menarik napas dalam-dalam dan melihat hidup dengan kacamata yang lebih jernih.

Bagaimana Islam memandang ambisi manusia, dan apa esensi dari "hidup santai" yang dimaksud penulis?

Melawan Ambisi Semu dengan Panduan Nabawi

Melalui lembar-lembar bukunya, Muhammad Rois Almaududy menegaskan bahwa menjadi sukses, bahagia, dan bermanfaat sebenarnya dijamin 100% mudah dan tidak akan membebani pundak kita. Penulis menelisik makna sejati dari pencapaian hidup dengan merujuk langsung pada panduan Islam serta meneladani kisah hidup para nabi dan sahabat.

Dari kisah-kisah teladan tersebut, pembaca disadarkan bahwa kehebatan di mata manusia sering kali semu. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa riuh tepuk tangan dunia, melainkan dari kedamaian hati yang selaras dengan takdir Tuhan.

Buku ini membedah beberapa konsep penting untuk menata kembali kesehatan mental dan spiritual kita, di antaranya:

  • Sukses Tidak Harus Selalu Berhasil: Memahami bahwa dalam hitungan vertikal (kepada Tuhan), proses, keikhlasan, dan daya juang jauh lebih bernilai ketimbang hasil akhir yang tampak di mata manusia.

  • Mengenali Tiga Musuh Abadi: Kewaspadaan terhadap jebakan ego, godaan duniawi yang berlebihan, dan rasa tidak puas yang terus menggerogoti rasa syukur.

  • Dahsyatnya Ridho: Menemukan energi luar biasa dari sikap menerima (legowo) atas segala ketentuan-Nya, yang menjadi kunci utama ketenangan jiwa.

Pilar Ketenangan Jiwa: Agar Hidup Tak Seperti Buih

"Banyak orang terjebak menjadi seperti buih di lautan—terombang-ambing oleh tren, standar orang lain, dan ambisi yang tidak ada habisnya, hingga lupa akar ketenangan mereka sendiri."

Untuk membantu pembaca keluar dari lingkaran kecemasan (anxiety) akibat tuntutan zaman, buku ini menawarkan peta jalan praktis yang bersandar pada nilai-nilai spiritual:

Bab Pembelajaran

Fokus Utama

Rahasia Kebahagiaan

Menurunkan jangkar ekspektasi duniawi dan menaikkan standar kebahagiaan berbasis rasa syukur atas hal-hal sederhana.

Agar Tak Seperti Buih

Membangun prinsip hidup yang kokoh secara spiritual agar tidak mudah rapuh oleh kritikan atau pujian manusia.

Belajar dari Generasi Terbaik

Mengambil sari pati keteladan hidup para sahabat nabi yang hidup bersahaja namun namanya abadi sebagai ahli surga.

Catatan Reflektif: Santai di Dunia, Serius Menuju Akhirat

Pesan utama buku ini adalah mengendurkan ketegangan dalam mengejar validasi duniawi bukan berarti pasrah tanpa usaha. "Santai saja" adalah bentuk penyerahan hasil akhir (tawakal) kepada Tuhan setelah ikhtiar terbaik dilakukan, sehingga kita tidak stres meratapi kegagalan.

Buku Santai Saja, Hidup Tidak Harus Hebat ditulis dengan bahasa yang mengalir, ringan, namun memiliki kedalaman makna yang menohok ego. Muhammad Rois Almaududy berhasil mengemas ajaran Fikih kehidupan dan motivasi Islami menjadi sebuah panduan yang sangat membumi dan relevan dengan gaya hidup modern.

Bagi Anda yang saat ini merasa lelah dikejar target hidup, merasa tertinggal oleh pencapaian orang lain, atau sedang berada di titik jenuh kompetisi dunia, buku ini adalah teman duduk yang hangat. Buku ini dengan lembut mengingatkan kita semua bahwa tujuan akhir kita bukanlah menjadi yang terhebat di bumi, melainkan melangkah dengan tenang menuju surga-Nya yang hakiki.

(Sumber: gramedia.com)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....