Sisi Lain Cinderella: Kisah Budak Mesir, Ikan Ajaib Tiongkok, hingga Typo Sepatu Kaca
- 29 Mei 2026 16:05 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Ketika berbicara mengenai Cinderella, kisahnya pasti tergambar di benak publik melalui film animasi produksi Walt Disney. Namun faktanya, Cinderella memiliki cerita asli serta detail yang cukup berbeda dibandingkan kisah yang dipopulerkan oleh Disney tersebut.
Sebenarnya, kerangka dasar cerita Cinderella tetap berputar pada seorang wanita muda baik hati yang menjalani penderitaan di tangan keluarga tirinya. Elemen supernatural pun hadir dalam wujud pelindung sang tokoh utama. Namun, di luar kerangka ini, para pendongeng di seluruh dunia telah mengubah detail literatur dengan gaya unik mereka masing-masing.
Dilansir dari pookpress.co.uk, versi paling awal dari cerita Cinderella berasal dari Mesir, yang menceritakan kisah cinta gadis budak Yunani yang menikah dengan Raja Mesir. Kisah ini pertama kali dicatat oleh seorang ahli geografi Yunani bernama Strabo pada abad pertama Sebelum Masehi (SM).
Kemudian, cerita Cinderella versi Tiongkok ditulis oleh Tuan Ch'eng-shih pada abad ke-9. Dalam versi ini, tokoh utamanya bernama Yeh-Shen.
Sosok ibu peri digantikan oleh seekor ikan ajaib, dan ia mengenakan sepatu emas yang menuntunnya menemukan cinta sejati. Cerita serupa baru muncul kembali di Prancis pada abad ke-17.
Versi tertulis berikutnya muncul pada tahun 1634 lewat catatan Giambattista Basile tentang Cenerentola—yang diterbitkan dalam Pentamerone (kumpulan dongeng klasik berbahasa Neapolitan). Koleksi dongeng ini kemungkinan besar menginspirasi adaptasi Charles Perrault dalam karyanya yang berjudul Histoires ou Contes du Temps Passé.
Penulis asal Prancis inilah yang memperkenalkan sosok Ibu Peri yang kini sangat populer. Dia juga yang menciptakan kereta labu nan ikonik, pelayan hewan yang bertingkah seperti manusia (antropomorfis), dan sepatu kaca kecil (La petite pantoufle de verre).
Perrault mengaku bahwa ia mendengar cerita tersebut dari beberapa pendongeng anonim, lalu menambahkan detail ekstra untuk efek sastra. Beberapa ahli berpendapat bahwa ia salah membedakan kata vair (bahasa Prancis kuno untuk 'bulu binatang') dengan verre (yang berarti 'kaca').
Kekeliruan pelafalan inilah yang menjelaskan mengapa sepatu terkenal itu terbuat dari kaca, padahal bahan tersebut sangat rentan dan rapuh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....