Menyimak Sudut Pandang Buku Anak tengah yang Merayakan Lukanya
- 21 Mei 2026 16:59 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan — Di dalam sistem kekeluargaan, anak tengah sering kali digambarkan berada di wilayah abu-abu. Mereka tidak mendapatkan keistimewaan "serba pertama" layaknya si sulung, namun juga tidak merasakan luapan kemanjaan yang biasa diterima si bungsu. Posisi terjepit ini kerap melahirkan fenomena psikologis yang dikenal sebagai Middle Child Syndrome atau Sindrom Anak Tengah.
Berangkat dari realitas yang sunyi namun dialami oleh banyak orang ini, penulis Nusril Muchtadi menghadirkan sebuah karya reflektif berjudul Anak Tengah yang Merayakan Lukanya. Buku yang resmi diterbitkan oleh penerbit Terang Sejati pada 20 April 2026 ini, mencoba membedah ruang batin anak tengah bukan dari sudut pandang korban, melainkan dari kacamata penerimaan dan ketangguhan.
Melalui narasi jurnalistik yang mendalam, buku ini merangkum perjalanan emosional anak tengah yang berhasil mengubah rasa terabaikan menjadi sebuah kekuatan personal.
Bahasan Utama: Menembus Batas Ketidakpastian
Nusril Muchtadi membagi dinamika kehidupan anak tengah ke dalam beberapa pilar pembahasan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:
Eksistensi yang Terlupakan: Buku ini menyoroti bagaimana anak tengah sering kali menjadi penonton di rumahnya sendiri. Mereka harus berjuang lebih keras hanya untuk didengar suaranya, memicu lahirnya kemandirian yang ekstrem sejak usia dini.
Sang Juru Damai Keluarga: Salah satu ulasan menarik dalam buku ini adalah peran tidak resmi anak tengah sebagai diplomat keluarga. Karena terbiasa melihat dari dua sisi (kakak dan adik), mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki empati tinggi dan pandai bernegosiasi.
Mengubah Luka Menjadi Perayaan: Alih-alih meratapi nasib atau terjebak dalam rasa iri, Nusril mengajak pembaca untuk "merayakan" luka tersebut. Luka akibat kurangnya perhatian justru membentuk fleksibilitas karakter yang membuat anak tengah lebih siap menghadapi kerasnya dunia luar.
Refleksi Penulis: "Menjadi anak tengah adalah seni bertahan dalam senyap. Ketika perhatian tidak datang secara cuma-cuma, kita belajar untuk menciptakan dunia kita sendiri yang jauh lebih mandiri." — Nusril Muchtadi, Anak Tengah yang Merayakan Lukanya
Panduan Berdamai dengan Rasa "Tersisih"
Melalui gaya bahasa yang lugas namun kontemplatif, Anak Tengah yang Merayakan Lukanya bertindak sebagai ruang katarsis sekaligus panduan psikologis. Nusril tidak hanya memetakan masalah, tetapi juga memberikan langkah-langkah praktis bagi anak tengah untuk membangun kepercayaan diri tanpa harus terus-menerus mencari validasi dari lingkungan keluarga.
Di sisi lain, buku terbitan Terang Sejati ini juga menjadi refleksi penting bagi para orang tua. Penulis secara halus mengingatkan bahwa keadilan dalam mengasuh anak tidak melulu soal materi, melainkan tentang kehadiran emosional yang merata bagi setiap anak, tanpa terkecuali si anak tengah.
Kesimpulan: Menggugat Stigma, Merangkul Identitas
Kehadiran buku Anak Tengah yang Merayakan Lukanya di paruh awal tahun 2026 ini memberikan suara bagi mereka yang selama ini memilih diam di tengah riuhnya dinamika keluarga. Karya Nusril Muchtadi ini berhasil membuktikan bahwa menjadi anak tengah bukanlah sebuah kutukan posisi, melainkan sebuah anugerah karakter yang membentuk seseorang menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan penuh warna.
(Sumber: gramedia.com)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....