Menggenggam "Yang Tak Bisa Dipeluk" Karya Atunkqodir

  • 28 Apr 2026 13:11 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Kehilangan sering kali meninggalkan ruang hampa yang sulit didefinisikan dengan kata-kata. Namun, melalui karya terbarunya bertajuk Yang Tak Bisa Dipeluk, penulis Atunkqodir mencoba menjembatani jarak antara rindu dan realitas. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Kita pada 1 Desember 2025 ini, dengan cepat menjadi perbincangan hangat karena keberaniannya menyentuh sisi paling rapuh dari manusia: perpisahan.

Melampaui Batas Fisik

Dalam buku ini, Atunkqodir tidak hanya bicara tentang kematian, tetapi juga tentang segala bentuk kehilangan yang membuat seseorang tidak lagi bisa "memeluk" apa yang mereka cintai—baik itu orang, impian, maupun masa lalu. Penulis mengajak pembaca untuk memahami bahwa mencintai sering kali berarti juga belajar melepaskan.

Poin-poin narasi yang diangkat dalam buku ini meliputi:

  • Kehadiran dalam Ketiadaan: Bagaimana kenangan tetap hidup dan memberi kehangatan meskipun sosok fisiknya telah tiada.

  • Proses Berduka yang Tak Linear: Menyoroti bahwa kesedihan bukanlah sesuatu yang harus cepat-cepat disembuhkan, melainkan dialami.

  • Penerimaan sebagai Bentuk Cinta Tertinggi: Mengubah rasa sakit menjadi sebuah apresiasi atas waktu yang pernah ada.

Puisi yang Menjadi Penawar

Berbeda dengan buku motivasi yang cenderung menggurui, Yang Tak Bisa Dipeluk dikemas dengan gaya bahasa yang sangat personal dan puitis. Atunkqodir menggunakan metafora-metafora alam dan keseharian untuk menggambarkan betapa luasnya perasaan kehilangan.

"Ada hal-hal di dunia ini yang diciptakan bukan untuk digenggam erat, melainkan untuk dikenang dalam doa. Kita tidak bisa memeluk angin, tapi kita bisa merasakan kesejukannya. Begitulah cara kerja rindu," ungkap salah satu baris paling populer dalam buku tersebut.

Struktur yang Menyentuh

Diterbitkan oleh Penerbit Kita, buku ini dibagi menjadi beberapa bagian utama yang menggambarkan fase emosional manusia:

  1. Hujan di Dalam Dada: Menceritakan fase awal saat kehilangan terasa sangat menyesakkan.

  2. Menyapa Bayang-bayang: Fase di mana seseorang mulai terbiasa hidup berdampingan dengan ingatan.

  3. Pulang ke Diri Sendiri: Sebuah ajakan untuk menemukan kembali kebahagiaan tanpa harus melupakan apa yang telah hilang.

Respon Pembaca dan Kritikus

Sejak dirilis akhir tahun lalu, buku ini telah menjadi "teman" bagi banyak orang yang sedang berjuang dengan duka. Kritikus sastra memuji kemampuan Atunkqodir dalam mengubah kesedihan yang gelap menjadi narasi yang bercahaya dan penuh harapan.

Buku ini bukan hanya ditujukan bagi mereka yang baru saja kehilangan, tetapi bagi siapa saja yang ingin belajar tentang empati dan kedalaman rasa. Yang Tak Bisa Dipeluk membuktikan bahwa meski tangan tak lagi bisa menjangkau, hati selalu punya cara untuk tetap memeluk dengan erat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....