Membasuh Noda di Balik Jeruji

  • 29 Apr 2026 16:15 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Bagi segelintir orang, siapa mereka hari ini tidaklah penting, melainkan masa lalu kelam yang terus melekat menjadi identitas yang layak dikenal. Namun, di bawah bentangan peranet hitam yang setia menyaring terik Lapas Nunukan, suara gesekan alat seni terdengar pelan. Cahaya matahari yang lolos dari celah-celah jaring itu memantulkan warna-warna berani dari selembar kain batik yang baru saja dicanting. Tidak ada hiruk pikuk, hanya proses yang berjalan perlahan.

Di sebuah sudut bengkel seni ini, kenyataan berjalan berlawanan arah dengan prasangka. Tembok tinggi dan pintu yang terkunci rapat memang mengurung raga, tetapi jeruji paling sesak justru datang dari riuh rendahnya ‘penggemar penghakiman’ di luar sana. Seolah harapan adalah barang buangan yang layak mati sebelum sempat bernapas.

Tangan yang dulu digunakan ‘tanpa arah’ mulai menemukan jalannya. Mereka mencoba membasuh noda bukan dengan pembelaan kata-kata, tetapi dengan karya yang tak pernah berani terucap. Di ambang pintu bengkel yang riuh dengan aroma lilin dan kayu, Candra berdiri mengamati dengan sorot mata penuh harap. Sebagai petugas pembina, ia tahu persis bahwa perubahan di tempat ini bukan perkara sekejap mata.

Baginya, tumpukan debu kayu yang berserakan, helai demi helai benang yang sudah menggunung, dan lipatan batik bercorak LULANTATIBU yang baru saja dikemas, adalah saksi bisu. Corak yang menyimbolkan pemersatu tiga suku besar di Nunukan, Lundayeh, Tagalan, dan Tidung Bulungan ini menjadi bukti nyata dari jejak tangan yang dulunya akrab dengan hal ‘tak terarah’.

“Tujuan kami sederhana, mengembalikan mereka ke masyarakat dengan bekal yang cukup untuk memulai lagi. Kami sedang membuka jalan, bukan sekadar memberi pekerjaan,” ujar Candra, (20/04/2026). Bersama rekan sejawatnya, Rudi, memang tengah berupaya memulihkan martabat mereka yang sempat pupus. Mereka selalu menekankan satu hal kepada warga binaan.

“Sampah saja jika diolah bisa berguna, apalagi kita manusia. Masa kita mau merasa lebih rendah dari sampah?” Kalimat itu menjadi bahan bakar bagi mereka yang tertunduk khusyuk di ruang harapan.

Namun, memberikan kesempatan bukan perkara asal tunjuk, apalagi tanpa batasan. Di balik setiap peluang yang terbuka, ada seleksi sunyi yang berlangsung dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Saat dunia luar lantang berbicara soal moral, Candra justru bergulat dengan kenyataan yang lebih sunyi. Melakukan asesmen mendalam untuk melihat sejauh mana para warga binaan benar-benar ingin membuang masa lalunya.

Dari sekian banyak tangan yang perlahan belajar menemukan arah, ada satu sosok yang perjalannya tidak selalu mudah. Adalah Wilfredo, atau disapa Edo, yang tidak langsung akrab dengan proses ini. Pada mulanya, bengkel seni yang kini memberinya ketenangan justru terasa asing baginya. Edo mungkin sempat terpaksa tunduk pada sistem absensi dan aturan ketat lapas demi selembar kertas kebebasan. Namun, seiring berjalannya waktu, ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar rasa takut pada sanksi. Seni mulai melakukan ‘sabotase’ lembut terhadap egonya yang keras.

Ia bukan seniman lulusan kampus ternama, melainkan seorang pria yang mencoba menulis ulang takdirnya melalui garis-garis seni. Di hari itu, ia berdiri di antara gawangan di depan selembar kain, ujung canting di tangannya sempat berhenti, ragu pada pola rumit yang dibuat

tidak selalu sempurna. Beberapa kali ia harus mengulang dari awal. Menatap tajam setiap kesalahan, lalu kembali menggores hingga sesuai dengan ekspektasi yang ia tetapkan sendiri.

“Saya orangnya optimis. Saya berpikir, ‘Saya dulu bisa, kenapa sekarang tidak?’ Akhirnya saya mencoba lagi sampai mendapat hasil yang saya harapkan,” ujarnya dengan bangga.

Hari demi hari dilalui, kegiatan seni yang awalnya terasa sebagai kewajiban mulai berubah menjadi kebutuhan. Seni memberikan sesuatu yang gagal diberikan oleh hukuman fisik mana pun. Di balik tembok yang memutuskannya dari koneksi internet, Edo justru menemukan koneksi terdalam dari dirinya sendiri.

Ia baru menyadari bahwa selama ini ia memiliki kemampuan yang lebih, yang mungkin takkan pernah ia temukan jika ia masih mahir menggeser layar ponsel daripada mencari potensi diri.

Namun, di balik keteguhan dan binar bangga itu, ada perang yang berkecamuk setiap kali tangan itu berhenti bergerak. Bagi Edo, diam adalah musuh paling nyata. Saat suasana bisu, bisikan masa lalu sering kali datang mengetuk, mencoba mengganggu ketenangan yang baru saja ia bangun. Pilihan ini bukan sekadar hobi untuk membunuh waktu, melainkan cara paling jujur baginya untuk membungkam kekosongan batin yang dulu pernah ia abaikan hingga membawanya ke balik jeruji besi.

Ironisnya, di tempat yang hampir tidak mengenal kata tenang ini, Edo harus berjuang dua kali lipat. Untuk menemukan fokusnya. Saat dunia luar mencari inspirasi di kafe atau perpustakaan, Edo harus bertarung dengan hiruk-pikuk siang hari di lapas yang sering kali meledak-ledak.

“Lebih sulit mengontrol konsentrasi, apalagi kalau polanya sulit. Di sini juga, kalau mau tenang, yang ada tenang malam aja. Ribut juga di sini kalau siang,” ujarnya jujur.

Dari proses itu, Edo belajar sabar, bukan dari teori, tetapi dari kesalahan yang ia perbaiki sendiri. Di situlah integritasnya diuji, memilih menyerah pada frustrasi atau bertahan menyelesaikan lilin malam pada selembar kain yang sudah dimulai.

Ada nada getir saat Edo menceritakan identitas barunya. Ia tidak meminta untuk dipuji, ia hanya ingin stigma sedikit bergeser. Masih lantang para ‘penggemar penghakim’ di luar sana berkhotbah soal moral, namun jauh dari denyut realita. Ketidakpedulian muncul bukan karena kurangnya ketenangan, malainkan karena stigma yang sudah terlanjur mengakar kuat terhadap mereka yang mencoba berbenah.

“Kami bukan sepenuhnya orang jahat, kami hanya terjebak di lingkungan yang kotor,” ujarnya menohok.

Namun, lewat setiap karya yang dihasilkan, seni bukan lagi pelarian di balik jeruji, melainkan harapan baru untuk menyambung hidup. Semua keringat dan pergulatan ego akhirnya bermuara pada satu titik: sebuah pengakuan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Hal yang tidak terbayang oleh tangan yang dicap ‘tanpa arah itu’ kini diapresiasi oleh dunia luar.

“Ada perasaan bangga yang sulit dijelaskan saat tahu orang lain memakai dan menghargai hasil karya saya,” ucap Edo dengan sorot mata terharu.

Kalimat itu menjadi cerminan bagi kita di dunia luar sana, yang terkadang begitu ringan melontarkan penghakiman tanpa empati. Perjuangan Edo untuk memungut martabatnya seakan mengetuk kesadaran bahwa ia dan mereka yang ada di sana masihlah manusia yang berharga dan layak.

“Jangan pandang kami rendah. Kami tahu kami pernah salah, tapi kami tidak sepenuhnya menjadi tentang kesalahan itu,” ungkap Edo lirih namun tegas.

Edo menutup pembicaraan dengan sebuah tamparan bagi kewarasan kita. Bagi Edo, label narapidana akan terus melekat seperti noda tinta yang suit hilang, namun ia ingin dunia tahu bahwa di balik statusnya tersebut, ada jiwa yang berusaha untuk pulih. Masa lalu yang kelam tidak boleh mematikan hak seseorang untuk menjadi lebih baik, bahkan untuk seorang ‘cacat karakter’ yang belajar berseni sekalipun.

Jika suatu hari nanti karya-karya yang ada di Lapas Nunukan dikenal banyak orang, ingatlah satu hal bahwa di balik selembar kain batik yang indah dengan corak khas Nunukan atau pahatan kayu yang teliti, ada seorang manusia yang berhasil menemukan kembali dirinya sendiri di balik paranet, membuktikan bahwa seni memang tidak bisa membebaskan raga, namun ia mampu memerdekakan jiwa yang selama ini terbelenggu oleh rasa bersalah. Setiap garis yang ia gores adalah cara paling jujur untuk berkata kepada dunia, “Saya masih ada, dan saya telah berubah.” (Penulis: Irmisa Syabani, Juara I Lomba Karya Jurnalistik pada FL3SN tingkat Kabupaten Nunukan Tahun 2026)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....