Peluh dan Harapan di Balik Sapu Lidi Susana
- 03 Mar 2026 13:01 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Waktu menunjukkan pukul 08.30 pagi, lalu lintas di jantung Kota Nunukan mulai berdenyut kencang. Di sela deru mesin dan hilir mudik kendaraan, ada sosok Susana, 55 tahun, yang tengah menyapu dan membersihkan fasilitas kota.
Gesekan sapu lidi yang beradu dengan aspal menjadi lagu yang senantiasa menemaninya bekerja selama dua dekade terakhir. Setelah semuanya bersih dan rapi, jari jemarinya kini berpindah tugas merawat tanaman di taman kota.
Bermodalkan cangkul dan gunting taman sederhana, dengan cekatan ia memotong dahan-dahan yang mulai tak beraturan agar tak menutupi trotoar. Dua puluh tahun sudah Susana mengabdikan diri menjaga lingkungan di Bumi Tunon Taka. Baginya, bulan suci ramadan tak menyurutkan semangatnya dalam mencari nafkah.
"Saya sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu di Dinas Kebersihan. Menyapu, setelah itu pulang dan terkadang pergi mengikat rumput laut di sini kan mulai 7.30 kerja, jam 10.30 pulang sampai di rumah pergi lagi mengikat rumput laut. Kadang dapat lima untuk cari-cari uang sayur," ujarnya saat ditemui di Alun-alun Nunukan, Senin (23/2/2026).
Kehidupan mungkin tak begitu mulus bagi ibu lima anak ini. Sejak sang suami berpulang pada 2015 silam, punggung Susana-lah yang menjadi tiang penyangga keluarga.

Susana (55), Petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Nunukan. Foto: RRI Nunukan/Tiara Aliya
Lelah dan letih menjadi makanan sehari-harinya ketika bekerja di bawah terik matahari. Susana paham betul, hidup harus terus berjalan, ada perut yang harus diberi makan.
Tak jarang, ketika tugas di jalanan selesai, Susana acap kali menyambung napas menjadi buruh ikat rumput laut. Pekerjaan yang tak kalah melelahkannya dengan menyisir sampah di trotoar.
"Tulang punggung tapi terkadang anak-anak kasih uang untuk belanja makan saya kerja begitulah kalau ada kurang, saya nambah. Kalau tidak saya simpan (uangnya) untuk masa tua saya. Kalu gaji di sini per bulan Rp 1,5 juta. Kalau di rumput laut tidak menentu, kalaumalas tidak pergi, kalau rasa enak turun kadang dapat 5 tali, kadang 3 tali, kadang 4 jadi enggak menentu. Terkadang dapat Rp 45.000 terkadang Rp 30.00," jelasnya.
Meski profesinya nyaris tak mengenal kata libur, Susana tak pernah membiarkan urusan dunia menenggelamkan urusan akhiratnya. Di sela kesibukannya, ia tetap berupaya menjaga salat lima waktu. Baginya, Ramadan merupakan ladang memanen pahala, sehingga tiap tetes keringatnya ia niatkan sebagai ibadah.
Jauh sebelum matahari menampakkan diri, ia menunaikan salat Subuh di surau dekat rumahnya. Ketika fajar menyingsing, ia berjalan kaki sekitar 30 menit menuju taman kota.
Setelah matahari mulai menampakkan diri, ia pun bersiap berangkat kerja. Dengan berjalan kaki sekitar 30 menit, ia pun tiba di taman kota dan langsung memulai pekerjaannya.
Satu per satu sudut kota ia jamah dengan sapu lidi andalannya. Saat peluh mulai bercucuran, ia menyekanya dengan punggung tangan, lalu beristirahat sejenak saat matahari tepat berada di atas kepala.
Pukul 11.00 siang, tugasnya di jalanan tuntas. Susana kembali melangkah pulang, berjalan kaki lagi selama 30 menit. Jika hari itu tak ada panggilan untuk mengikat rumput laut, ia akan memanfaatkan waktu untuk mengistirahatkan raganya sejenak.
Sore harinya, ia kembali sibuk di dapur kecilnya, menyiapkan santapan sederhana untuk berbuka, sebelum menutup hari dengan langkah ringan menuju surau untuk menunaikan Tarawih. Bagi Susana, setiap langkah kakinya di atas aspal Nunukan adalah cara ia menghitung syukur dan pahala.
"Kadang dirasa lelah tapi uang kita kerjalah apalagi seperti saya janda jadi tulang punggungnya di saya jadi lelah maupun tidak lelah harus turun kerja," ucapnya.
Kisah Susana menjadi cermin bagi kita yang sering kali mengeluh di kala dahaga mulai menyama. Ia membuktikan bahwa ibadah puasa tak sedikit pun menyurutkan semangatnya dalam mencari nafkah. Justru, setiap peluh yang menetes ia jadikan ladang untuk memanen pahala sebanyak-banyaknya.