Menari di Perbatasan, Merawat Budaya Lokal Nunukan

  • 29 Okt 2025 14:01 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Menari tidak hanya mengolah gerak tubuh, tetapi juga menjadi jalan pulang menuju akar budaya. Irwansyah, inisiator sekaligus pendiri Sanggar Tari Nunukan Etnika, bersama anak-anak muda Nunukan mengubah panggung seni menjadi ruang pelestarian, tempat kisah panjang etnis Tidung dan Dayak tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.

Di tengah gempuran budaya populer yang semakin memikat generasi muda, sekelompok anak muda di Kabupaten Nunukan justru memilih jalan berbeda. Mereka melestarikan budaya lokal melalui seni tari. Sanggar Tari Nunukan Etnika, berdiri sejak 2020, menjadi ruang kreatif yang menghidupkan kembali tarian tradisional suku Tidung dan Dayak di perbatasan Indonesia-Malaysia.

Irwansyah bercerita, perjalanannya dimulai dari komunitas Modern Dance pada tahun 2015. Kala itu mereka menekuni tari modern yang banyak mengadopsi gerakan luar negeri. Namun, titik balik terjadi ketika mengikuti lomba di Samarinda.

“Saat itu lombanya tari modern etnik. Kami coba menggabungkan gerakan modern dengan unsur etnik Nunukan dan Alhamdulillah langsung meraih juara satu. Dari situlah kami termotivasi menggali budaya lokal,” ungkapnya penuh syukur.

Sejak resmi berdiri, sanggar ini berkomitmen mengangkat cerita dan tarian lokal dalam setiap karya. Menurut Irwansyah, tarian pesisir seperti milik etnis Tidung dan tarian pedalaman khas Dayak menjadi fokus utama. Meski demikian, mereka tetap terbuka mempelajari tarian nusantara lainnya sesuai permintaan, bahkan tak menutup diri terhadap tari modern. “Yang tetap kami perkuat dan jaga adalah budaya lokal. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?” ucapnya yakin.

Latihan digelar rutin tiga hingga empat kali sepekan. Bagi penari baru, latihan teknik dasar diutamakan sebelum mempelajari gerak khas tiap daerah. “Setiap budaya tari punya pakem geraknya sendiri. Jadi teknik harus dikuasai dulu agar tidak salah menafsirkan gerakan,” jelas Irwansyah.

Lantai aula sekolah menjadi saksi langkah-langkah kecil para penari muda yang berlatih dari sore sampai malam. Keringat dan tawa bercampur dalam setiap hentakan kaki saat meniru gerak tarian pesisir Tidung, ritme tubuh dan jiwa seakan berpadu dalam harmoni budaya.

Prestasi demi prestasi pun diraih. Sejak masih berbentuk komunitas, mereka menjuarai lomba Modern Dance di Tarakan selama tiga tahun berturut-turut (2015-2017). Setelah berubah menjadi sanggar, gelar juara pertama kembali diraih pada Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman se-Kalimantan Utara di Tana Tidung (2023). Berkat prestasinya, Sanggar Tari Nunukan Etnika dipercaya tampil di tingkat nasional dalam Temu Karya Tari Indonesia di Bandung (2023), serta membawakan tari etnik di Tawau, Sabah, Malaysia.

“Alhamdulillah setiap kali ikut lomba kami selalu berusaha menampilkan yang terbaik. Itu menjadi kebanggaan dan motivasi untuk terus berkarya,” ujar Irwansyah.

Selain aktif berlomba, sanggar ini juga tampil dalam Festival Kebudayaan Antar Bangsa ke-29 di Tawau (2024), yang diikuti peserta dari Thailand dan India. Pada kesempatan itu, Sanggar Tari Nunukan Etnika bahkan dipercaya menjadi koreografer utama.

Robianto, salah satu penari muda, mengaku mendapat banyak pengalaman berharga. “Yang paling seru itu saat latihan gerakan baru, tantangannya fisik dan kebersamaan. Selain itu kami bisa tampil di panggung besar, bahkan ke luar negeri. Itu pengalaman membanggakan,” ujarnya.

Ia mengenang momen bersejarah ketika sanggar meraih juara pertama di Festival Tari Kreasi Daerah Tana Tidung 2023 dan mendapatkan hadiah pembinaan sebesar Rp20 juta. Namun perjalanan melestarikan budaya lokal tidak selalu mudah. Irwansyah mengakui bahwa generasi muda kini lebih tertarik pada budaya modern. Untuk mengatasinya, mereka memanfaatkan media sosial sebagai ruang promosi budaya agar tampil lebih menarik dan relevan.

“Kami juga melibatkan tokoh masyarakat untuk menggali cerita lokal, lalu mengajak anak muda agar sadar pentingnya menjaga budaya daerah,” tambahnya optimistis.

Upaya kolaboratif pun dilakukan. Mereka melibatkan penjahit lokal dalam pembuatan kostum, mengadakan latihan gabungan dengan sanggar lain, serta memberikan edukasi budaya ke sekolah-sekolah. Profesi Irwansyah sebagai guru seni turut memudahkannya mengajak murid-muridnya terlibat aktif dalam kegiatan sanggar.

Dukungan pemerintah juga hadir. Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan, Abdul Khalid, menyampaikan apresiasinya. “Sanggar-sanggar seperti ini adalah garda terdepan dalam menjaga identitas budaya di perbatasan. Kami akan terus mendorong mereka agar bisa tampil di tingkat lokal, nasional, hingga internasional,” ujarnya.

Menurutnya, pelestarian budaya lokal di perbatasan memiliki nilai strategis, bukan hanya memperkuat jati diri masyarakat tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia. “Kabupaten Nunukan adalah etalase budaya di perbatasan. Tarian, musik, dan seni lokal adalah identitas yang harus terus dijaga dan hidup,” ucapnya.

Kini, Sanggar Tari Nunukan Etnika menjadi rumah bagi generasi muda untuk belajar disiplin, kerja keras dan mencintai budaya. Dari jejak prestasi dan komitmen menjaga tradisi, sanggar Sanggar Tari Nunukan Etnika menunjukkan bagaimana seni tari menjadi jembatan antara modernitas dan kearifan lokal.

Harapan mereka sederhana, budaya lokal Nunukan tetap lestari, dikenal luas dan terus dibanggakan lintas generasi. (RRI Nunukan/MM)

Rekomendasi Berita