Atasi Tiga Masalah Klasik BUMDes, Gandeng Sektor Swasta
- 06 Mar 2026 07:08 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID. Nunukan: Meskipun menunjukkan tren positif, pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Nunukan masih menghadapi tantangan besar. Kabid Administrasi Pemerintahan Desa DPMD Nunukan, Feri Wahyudi, mengungkapkan setidaknya ada tiga persoalan utama yang perlu segera dituntaskan: skala ekonomi yang kecil, sulitnya akses pasar dan tata kelola manajemen yang belum profesional.
Persoalan pertama terkait skala ekonomi muncul karena volume produksi BUMDes saat ini masih sangat terbatas. Hal ini membuat efisiensi usaha sulit dicapai dan daya saing produk menjadi rendah saat berhadapan dengan produk massal. Untuk itu, DPMD mulai mengarahkan BUMDes untuk mengidentifikasi produk yang paling potensial untuk diproduksi dalam skala besar guna meningkatkan margin keuntungan.
Hambatan kedua adalah akses pasar. Banyak BUMDes yang sudah menghasilkan produk berkualitas, namun bingung harus menjual ke mana. Feri Wahyudi menyatakan bahwa DPMD kini gencar mendorong perbaikan legalitas badan hukum sebagai solusi utama. Dengan status badan hukum resmi, BUMDes memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk menembus pasar ritel modern maupun menjalin kontrak dengan pembeli besar.
Masalah ketiga yang tak kalah krusial adalah profesionalisme pengelola. Minimnya kapasitas SDM dalam mengelola bisnis seringkali membuat BUMDes jalan di tempat. DPMD Nunukan telah menginisiasi berbagai program peningkatan kapasitas, mulai dari pelatihan manajemen keuangan hingga pendampingan melalui kanal digital seperti grup WhatsApp untuk mempercepat distribusi informasi dan solusi masalah di lapangan.
Dalam upaya penyelesaian masalah ini, DPMD Nunukan tidak bekerja sendirian. Strategi kolaborasi lintas sektor diterapkan dengan melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. “Selain itu, pemerintah juga meminta dukungan aktif dari perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah desa melalui program CSR untuk membantu permodalan, pelatihan maupun menjadi offtaker produk BUMDes,” ujar Feri Wahyudi, Jumat (06/03/2026)
Melalui langkah-langkah strategis ini, DPMD optimis hambatan-hambatan tersebut dapat terkikis secara bertahap. Fokus utama tahun ini adalah memastikan BUMDes tidak hanya sekadar berdiri, tapi juga mampu "berlari" secara mandiri dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, desa dan sektor swasta menjadi kunci utama dalam memutar roda ekonomi di perbatasan Kalimantan Utara. MM