PT Kebula Ekspor 60 Ton Rumput Laut ke Korea

  • 26 Mei 2025 01:32 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Potensi kelautan dari wilayah perbatasan Indonesia menunjukkan taringnya di pasar global. PT Kebula Raya Bestari, perusahaan berbasis di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, resmi melepas ekspor perdana rumput laut jenis Eucheuma Cottonii ke Korea Selatan sebanyak 60.000 kilogram, Minggu (25/5/2025).

Pengiriman yang bernilai USD 62.400 ini tidak sekadar transaksi komersial, melainkan menjadi langkah strategis dalam membangun reputasi Nunukan sebagai sentra rumput laut unggulan di kawasan timur Indonesia.

Prosesi pelepasan ekspor berlangsung di halaman gudang perusahaan di Kelurahan Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan. Direktur PT Kebula Raya Bestari, Sinta P. Bestari, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pencapaian tersebut.

“Keberhasilan ini adalah hasil kerja sama antara pemerintah daerah dan para mitra yang konsisten mendampingi kami. Visi kita sama: mendorong stabilitas harga dan meningkatkan kesejahteraan petani rumput laut,” ujar Sinta dalam sambutannya.

Ekspor perdana ini mendapat dukungan dari berbagai instansi seperti Dinas Perdagangan, Bea Cukai, Karantina, Badan Mutu, serta dukungan logistik dari Wan Hai, SPIL, Pelindo, dan Dinas Perhubungan. Pengiriman dilakukan melalui jalur laut dari Surabaya menuju Busan, Korea Selatan.

Selain membuka akses pasar internasional, ekspor ini juga memberi dampak sosial-ekonomi di tingkat lokal. Saat ini, PT Kebula telah menyerap 40 tenaga kerja dari masyarakat setempat dan menargetkan perluasan hingga lebih dari 100 orang seiring peningkatan kapasitas produksi dan permintaan ekspor.

“Kami juga mendapatkan dukungan penuh dari LPMUKP dan PT Global Indonesia. Kehadiran Mr. Deepak dan Mr. Matthew dari pihak mitra turut memperkuat sistem rantai pasok dan jaminan mutu produk kami,” tambah Sinta.

PT Kebula Raya Bestari tidak berhenti pada pasar Korea Selatan. Perusahaan telah menyiapkan rencana jangka menengah untuk ekspansi ke Tiongkok, Filipina, dan sejumlah negara lainnya. Selain mengekspor rumput laut mentah, perusahaan juga berfokus pada pengembangan produk turunan bernilai tambah.

Meski demikian, tantangan masih membayangi. Salah satunya adalah tingginya biaya logistik internasional. Dengan harga lokal rumput laut di kisaran Rp15.000/kg dan harga ekspor sekitar Rp17.000/kg, keuntungan bersih dinilai belum optimal akibat mahalnya ongkos kirim.

“Kami tetap optimis, namun juga realistis. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menekan biaya freight agar margin usaha bisa maksimal dan dirasakan langsung oleh petani,” tegas Sinta. (MM)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....