Apakah Bangsa Mongol Toleran dalam Agama?

  • 07 Jul 2026 06:22 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Kekaisaran Mongol adalah mozaik dari berbagai wilayah dan agama yang tersebar di seluruh Asia dan sebagian Eropa Timur. Bangsa Mongol saat ini paling dikenal karena kebrutalannya.

Kekaisaran Mongol berkembang pesat di seluruh Asia hingga Eropa Timur sebagai hasil penaklukan militer. Temüjin, yang kemudian menjadi Genghis Khan, adalah orang pertama yang menyatukan berbagai suku Mongol.

Bangsa Mongol dipahami sebagai kekaisaran yang menganut toleransi agama. Tapi hal ini mungkin tidak selalu menjadi bagian dari kebijakan dan keyakinan awal Genghis Khan. Bahkan, “Toleransi” tidak diterapkan sampai ekspansinya ke wilayah lain.

Lebih lanjut, “Toleransi”' terhadap agama lain di luar Tengrisme Mongolia, campuran antara shamanisme dan animisme, tidak diterapkan pada semua agama. Tetapi hanya beberapa agama tertentu. Dengan demikian, mungkin keliru untuk menyebut bangsa Mongol sebagai bangsa yang toleran secara universal.

Genghis Khan berhubungan dengan agama-agama asing sebelum penaklukan. Tapi ekspansi wilayah membuatnya berhadapan langsung dengan ulama atau pemimpin agama asing. Orang pertama yang ditemuinya adalah penganut Buddha. Pada tahun 1214, Genghis Khan diduga bertemu dengan Haiyun, seorang biksu Buddha Zen.

Sehingga Bangsa Mongol memberlakukan beberapa Kebijakan yakni: Orang Spesial dan Beberapa Jalan Menuju Tuhan, Pengecualian terhadap Aturan, Tidak Semua Mongol Bersikap Toleran, Konversi Agama, dan Toleransi dengan Batasan.

Meskipun demikian, agama-agama non-Mongol masih dipraktikkan di kekaisaran. Dan beberapa lembaga serta pemimpin agama mereka dilindungi selama periode pemerintahan Mongol. (Sumber: Nationalgeographic)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....