Akar Tradisi Tingkeban atau Tujuh Bulanan Masyarakat Jawa

  • 13 Mei 2026 05:51 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Mitoni atau Tingkeban adalah tradisi Jawa tujuh bulanan yang bertujuan memohon keselamatan bagi ibu dan janin, serta wujud syukur atas kehamilan pertama yang mencapai usia 7 bulan.

Sejarahnya berakar dari kisah zaman Kerajaan Kediri di masa Prabu Jayabaya mengenai pasangannya yakni Niken Satingkeb yang berhasil melahirkan dengan sehat setelah ritual mandi suci.

  • Berasal Dari Kata "Pitu" Tujuh, Menandai Usia Kehamilan 7 Bulan.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa pada usia 7 bulan, fisik janin sudah sempurna, sehingga perlu didoakan agar lahir normal, selamat, dan berakhlak mulia.

Prosesi ini dipenuhi nilai luhur dan simbolisme harapan:

  1. Siraman: Calon ibu dimandikan dengan air dari tujuh mata air dan bunga setaman, simbol penyucian diri dan janin.
  2. Pecah Telur: Calon ayah memecahkan telur ayam kampung, simbol harapan agar persalinan lancar,
  3. Brojolan: Dua kelapa gading muda yang digambar tokoh wayang ‘Biasanya Kamajaya & Ratih atau Arjuna & Srikandi’ dimasukkan melalui kain yang dipakai ibu, simbol harapan anak yang rupawan atau cantik dan berkepribadian baik.
  4. Ganti Busana: Ibu berganti kain tujuh kali, dengan kain ke-7 yang paling sederhana dianggap paling pantas, simbol kesederhanaan.
  5. Jual Cendol dan Rujak: Simbol harapan agar si kecil mendatangkan rezeki dan kehidupan yang manis.

Baca Juga: Fakta Dibalik Lagu Lingsir Wengi yang Sering Dianggap Pemanggil Makhluk Halus

Tradisi ini umumnya dilakukan pada hari baik atau menurut penanggalan Jawa, dan menjadi wujud syukur serta penghormatan terhadap kehidupan. (Sumber: Pemerintahkabupaten.Gunungkidul)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....