Perahu Jukung - Cerminan Hubungan Erat antara Laut dan Kebudayaan Spiritual
- 20 Jul 2026 08:50 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Perahu Jukung telah digunakan oleh masyarakat pesisir Bali dan Lombok (Suku Sasak) sejak era prasejarah dan mencapai puncak perkembangannya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Jukung merupakan turunan langsung dari perahu bercadik Austronesia yang dirancang untuk mengarungi perairan pantai dan selat-selat sempit di sekeliling Pulau Bali dan Lombok. Bentuknya yang khas dan artistik mencerminkan eratnya hubungan antara aktivitas bahari dan kebudayaan spiritual masyarakat setempat.
Tujuan utama pembuatan Jukung adalah sebagai sarana transportasi penangkapan ikan (pancing) serta alat angkut antar-pantai untuk kebutuhan harian. Ciri fisik paling mencolok dari Jukung Bali adalah ukiran dekoratif pada bagian haluan yang kerap membentuk kepala Gajah Mina (makhluk mitologi laut berbelalai gajah dan berbadan ikan) yang dipercaya sebagai pelindung dari bahaya laut. Struktur utamanya terdiri dari lambung kayu tunggal yang dilengkapi dua cadik bambu sejajar untuk menjaga stabilitas perahu saat menembus ombak pecah di pesisir pantai.
Hingga saat ini, perahu Jukung masih sangat aktif digunakan oleh ribuan nelayan tradisional di sepanjang pesisir Sanur, Amed, Jimbaran, hingga Senggigi. Meskipun sebagian besar Jukung modern telah dipasangi mesin tempel kecil (outboard motor) untuk mempermudah jangkauan ke tengah laut, bentuk dasar lambung, penggunaan cadik bambu, dan hiasan ornamen khasnya tetap dipertahankan persis seperti leluhur mereka buat di masa lalu.
Selain fungsi ekonomi untuk menangkap ikan, Jukung telah mengalami perluasan peran menjadi aset pariwisata budaya yang sangat bernilai. Perahu-perahu Jukung berwarna-warni yang bersandar di tepi pantai kini menjadi daya tarik visual utama bagi wisatawan, serta difungsikan sebagai sarana tur rekreasi snorkeling, melihat lumba-lumba di Lovina, hingga sarana penting dalam berbagai upacara adat Melasti (penyucian diri di tepi laut).
Pemerintah daerah bersama masyarakat adat pesisir Bali dan Lombok secara konsisten melestarikan keahlian pembuatan Jukung (undagi jukung) melalui festival bahari dan perlombaan layar Jukung tradisional. Keberadaan Jukung yang tetap lestari hingga era modern ini membuktikan bagaimana sebuah teknologi maritim kuno dapat bertahan hidup dengan cara menyatu harmonis ke dalam sistem sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakatnya. (tentik.com)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....