Mengembangkan Potensi Budidaya Rumput Laut di Lahan Tambak Pesisir

  • 29 Jun 2026 17:57 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Budidaya rumput laut selama ini identik dengan bentangan tali nilon yang terapung di tengah laut lepas. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi perikanan dan keterbatasan lahan perairan terbuka, kawasan tambak kini telah menjelma menjadi alternatif lokasi budidaya yang sangat potensial. Metode budidaya di lahan tambak ini menjadi solusi strategis, terutama bagi wilayah pesisir yang sering menghadapi kendala cuaca ekstrem atau wilayah yang memiliki banyak area tambak marginal yang tidak lagi produktif untuk komoditas komersial lainnya.

Tidak semua jenis rumput laut memiliki kemampuan adaptasi untuk tumbuh di ekosistem tambak yang berkarakter tenang dan memiliki kadar garam fluktuatif. Jenis yang paling utama dan terbukti sukses dikembangkan di lahan tambak adalah Gracilaria sp., sejenis alga merah penghasil agar-agar yang memiliki sifat euryhaline atau sangat toleran terhadap perubahan salinitas air payau. Selain itu, komoditas premium seperti Caulerpa sp. atau yang dikenal sebagai anggur laut kini juga mulai banyak diadaptasikan di tambak-tambak pesisir yang memiliki manajemen sirkulasi air yang baik.

Salah satu keunggulan terbesar dari sistem ini adalah fleksibilitasnya untuk diterapkan secara polikultur atau budidaya ganda bersama komoditas lain seperti ikan bandeng atau udang. Dalam sistem polikultur, rumput laut berperan sebagai biofilter alami yang menyerap sisa pakan dan kotoran ikan yang mengandung amonia, lalu mengubahnya menjadi nutrisi untuk tumbuh. Sebaliknya, proses fotosintesis dari rumput laut akan menyuplai oksigen terlarut melimpah bagi kelangsungan hidup ikan atau udang, sehingga menciptakan ekosistem tambak yang sehat, minim limbah, dan memberikan pendapatan ganda bagi petambak.

Dari sisi operasional dan manajemen risiko, budidaya rumput laut di tambak menawarkan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laut terbuka. Petani tidak perlu khawatir terhadap ancaman ombak besar, arus kuat, maupun badai laut yang sering kali menghanyutkan dan merusak seluruh fasilitas bentangan budidaya. Selain itu, akses pemeliharaan dan pemanenan menjadi jauh lebih mudah serta hemat biaya karena tidak memerlukan perahu motor besar, melainkan cukup memanfaatkan pengelolaan pintu air pasang-surut secara berkala.

Kendati menawarkan banyak keuntungan, kesuksesan budidaya di tambak sangat bergantung pada kedisiplinan dalam menjaga kualitas air dan kebersihan lahan. Masalah utama yang sering dihadapi adalah minimnya sirkulasi air yang dapat memicu ledakan pertumbuhan lumut sutra, di mana lumut tersebut dapat menempel dan menutupi permukaan rumput laut hingga menghambat pasokan sinar matahari. Oleh karena itu, pengaturan pasang-surut air laut melalui pintu tambak serta pembersihan sedimen lumpur secara berkala menjadi kunci utama agar investasi hijau di lahan payau ini dapat menghasilkan panen yang optimal dan berkelanjutan. (seaweednetwork.id)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....