Menilik Alasan di Balik Tingginya Target Penebangan Kayu Bakau

  • 29 Jun 2026 17:32 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Hutan mangrove atau bakau memegang peranan krusial sebagai penjaga kestabilan ekosistem pesisir. Namun, di berbagai belahan dunia, khususnya di wilayah tropis, vegetasi ini terus menjadi sasaran utama penebangan, baik secara legal maupun ilegal. Tingginya minat terhadap pembabatan pohon bakau ini tidak terjadi tanpa alasan; karakteristik unik dan kualitas fisik yang dimiliki oleh kayu bakau membuatnya menjadi salah satu komoditas yang sangat dicari untuk memenuhi berbagai kebutuhan industri dan aktivitas ekonomi manusia.

Alasan paling utama mengapa kayu bakau, khususnya dari genus Rhizophora (bakau sejati), menjadi target buruan adalah kepadatan atau densitas serat kayunya yang luar biasa tinggi. Karakteristik ini menjadikan kayu bakau sebagai bahan baku terbaik untuk pembuatan arang (mangrove charcoal). Arang yang dihasilkan dari kayu bakau dikenal memiliki kalori panas yang sangat tinggi, konsisten, tahan lama, dan menghasilkan polusi asap yang sangat minim. Kualitas premium inilah yang membuat arang bakau menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi yang sangat diminati oleh industri kuliner internasional, seperti restoran panggangan dan barbecue.

Selain untuk bahan bakar, kekuatan mekanis kayu bakau membuatnya sangat diandalkan dalam industri konstruksi, terutama pada lahan-lahan basah. Karena tumbuh di lingkungan air asin, kayu bakau secara alami memiliki ketahanan yang tinggi terhadap kelembapan ekstrem dan pembusukan akibat mikroorganisme serta serangan rayap. Di banyak daerah pesisir, batang pohon bakau yang lurus dan keras ditebang untuk dijadikan tiang pancang atau cerucuk fondasi bangunan. Kerangka jembatan, dermaga tradisional, hingga fondasi dasar perumahan panggung di atas lumpur sering kali mengandalkan kayu bakau sebagai penopang utamanya sebelum semen ditanam.

Daya tarik kayu bakau juga merambah hingga ke industri manufaktur skala besar, seperti industri bubur kertas (pulp) dan tekstil. Serat kayu bakau memiliki selulosa berkualitas tinggi yang sangat cocok diolah menjadi bahan baku kertas putih dan halus. Lebih dari itu, selulosa ekstrasi dari kayu bakau juga kerap dieksploitasi untuk diolah lebih lanjut menjadi serat buatan atau kain rayon. Kebutuhan pasokan massal dari sektor industri inilah yang kerap memicu eksploitasi hutan bakau dalam skala yang jauh lebih masif dan destruktif.

Pada akhirnya, kombinasi antara kualitas fisik kayu yang superior dan desakan keuntungan ekonomi instan membuat pohon bakau terus berada dalam posisi terancam. Meskipun regulasi perlindungan wilayah pesisir telah banyak diterbitkan, nilai jual arang dan kebutuhan material konstruksi yang tinggi di pasar sering kali mengalahkan kesadaran akan pentingnya menjaga fungsi ekologis bakau. Selama alternatif material pengganti tidak diperkenalkan secara luas dan penegakan hukum masih longgar, kayu bakau akan tetap menjadi sasaran empuk yang terus dikorbankan demi kepentingan ekonomi jangka pendek.(internationalpolicy.org)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....