Misteri Haikouichthys: Kakek Buyut Semua Hewan Bertulang Belakang

  • 24 Jun 2026 18:12 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Jauh sebelum dinosaurus merajai daratan atau paus raksasa menguasai samudra, lautan Bumi di periode Kambrium sekitar 518 juta tahun lalu adalah rumah bagi makhluk-makhluk berwujud aneh. Di tengah ekosistem purba yang didominasi oleh monster laut bercangkang, hiduplah sejenis makhluk kecil yang sekilas tampak tidak meyakinkan. Makhluk berukuran sekitar 2,5 sentimeter ini bernama Haikouichthys ercaicunensis. Keberadaannya pertama kali terungkap ke dunia sains pada tahun 1999, ketika tim paleontolog yang dipimpin oleh Luo Huilin, Hu Shixue, dan Shu Degan menemukan fosilnya yang terawetkan dengan sangat sempurna di formasi batuan Chengjiang, Yunnan, Tiongkok.

Meskipun bentuk tubuhnya hanya menyerupai cacing jeli atau ikan teri purba tanpa sirip, Haikouichthys memegang kunci penting dalam pohon silsilah kehidupan. Melalui makalah ilmiah seminal yang diterbitkan oleh Prof. Shu Degan dan rekan-rekan di jurnal Nature pada tahun 2003, para peneliti menegaskan bahwa makhluk ini adalah salah satu vertebrata (hewan bertulang belakang) paling awal di planet Bumi. Rahasianya terletak pada struktur punggungnya yang memiliki garis jaringan tulang rawan fleksibel yang disebut notochord. Garis purba inilah yang menjadi cetak biru evolusi, yang jutaan tahun kemudian berkembang menjadi susunan tulang belakang kokoh seperti yang dimiliki oleh mamalia, burung, hingga manusia saat ini.

Sebagai pionir di lautan purba, Haikouichthys memiliki anatomi yang sangat primitif namun revolusioner untuk zamannya. Berdasarkan analisis morfologi fosil, tim peneliti mencatat bahwa hewan kecil ini belum memiliki rahang untuk menggigit ataupun sirip samping yang berpasangan untuk bermanuver cepat. Cara bergeraknya diperkirakan mirip dengan belut modern, mengandalkan blok otot berbentuk huruf 'V' (myomeres) di sepanjang tubuhnya untuk mendorong diri maju di dalam air. Untuk bertahan hidup, mereka memanfaatkan sekitar enam hingga sembilan celah insang di area kepala untuk menyaring partikel makanan mikroskopis dari air laut.

Namun, jangan remehkan kesederhanaan makhluk ini. Di balik tubuhnya yang lunak, catatan ilmiah Prof. Shu Degan menunjukkan bahwa Haikouichthys sudah memiliki sistem sensorik yang terbilang canggih untuk masanya. Peneliti menemukan bukti adanya sepasang mata terfragmentasi dan struktur tengkorak tulang rawan primitif yang melindungi otak kecilnya. Kemampuan mendeteksi cahaya dan navigasi dasar ini memberikan mereka keunggulan besar untuk mendeteksi bahaya dan menghindari para predator raksasa di zaman Kambrium, seperti Anomalocaris, yang siap menyantap makhluk bertubuh lunak kapan saja.

Pada akhirnya, kisah Haikouichthys adalah kisah tentang bagaimana kesederhanaan mampu mengubah jalannya sejarah dunia. Penemuan tahun 1999 di Yunnan tersebut berhasil membantah teori lama dan membuktikan bahwa nenek moyang hewan bertulang belakang ternyata berevolusi puluhan juta tahun lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Tanpa keberhasilan bertahan hidup dari si kecil Haikouichthys di lautan purba, seluruh garis keturunan hewan vertebrata mungkin tidak akan pernah ada, dan Bumi hari ini akan menjadi planet yang sunyi tanpa kehadiran satwa modern. (a-z-animals.com)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....